Showing posts with label Drama. Show all posts
Showing posts with label Drama. Show all posts

Sunday, July 23, 2023

REVIEW SERIES: DELIGHTFULLY DECEITFUL (2023)

Episode: 16 (>1jam)

Skor IMDb: 7.3/10 

Dibandingkan dengan drakor lain yang sama jam tayang, sebenernya tidak ada kesengajaan dalam mengikuti series ini, akan tetapi semua rencana buyar akibat beberapa episode awal yang amat menakjubkan dan penuh daya tarik. Premis utama tentang tukang tipu bernama Lee Ro-Un dengan misteri dibalik kisah hidupnya membuat hook yang sangat menarik. Selain itu penuturan penipuan yang menarik juga membuat series ini sangat eye-catching di awal dan jarang ditemui di serial lain.

Semua kesan yang disampaikan di beberapa episode awal seketika buyar di pertengahan serial dan penonton pun akhirnya ikut tertipu, adegan penipuan yang sangat menarik di awal perlahan berkurang dan akhirnya hilang berganti menjadi misteri mengenai pembalasan dendam yang susah diikuti serta susunannya membingungkan. Terdapat storyline yang menarik yang tidak dieksplorasi lebih jauh oleh penulis serial ini, kisah antara polisi dan psikiater.

Sebenarnya pemilihan cast dan performa mereka amat sangat baik, hal itu yang membuat penulis mampu menyelesaikan serial ini, akan tetapi cerita yang sangat dragging, dan pesona yang tidak berlanjut dari beberapa episode awal membuat serial ini akan menjadi serial yang tidak penulis rekomendasikan bahkan buat para pecinta crime drama sekalipun.

Tuesday, July 11, 2023

REVIEW SERIES: BLOODHOUNDS (2023)

Jumlah Episode: 8 (54-74 menit)

Skor IMDb: 8.1/10 

Bloodhounds menawarkan ketegangan serta pengalaman menonton yang akan membuat para audiens ketagihan dan tak sabar menanti pembalasan dendam. Serial yang penuh darah dan baku hantam ini bukan hanya menghibur akan tetapi mengkombinasikan sekuen pertarungan yang sangat impresif.

Salut kepada sutradara yang mampu merajut narasi yang penuh lika-liku dan aksi laga yang wah. Kemampuan membuat alur yang susah ditebak membuat penonton akan selalu dibuat terkejut dengan kelanjutan cerita.

Seperti yang sudah penulis sebutkan di atas, salah satu keunggulan serial ini adalah aksi baku hantamnya. Koreografi dan eksekusi dari adegan pertarungan patut diacungi jempol menunjukkan dedikasi dan kemampuan dari para cast-nya. Selain itu kedua aktor utama juga menujukkan dedikasi yang tinggi dengan keseriusan membentuk badan sehingga tak kalah dengan atlet tinju sungguhan.

Perkembangan karakter di serial ini juga dibangun dengan baik. Semua karakter memiliki kepribadian dan latar belakang yang dijelaskan dengan baik sehingga para penonton akan mudah relate dengan mereka. Chemistry antar karakter juga menambah keautentikan dari serial ini.

Salah satu kekurangan dari serial ini ada di dua episode terakhirnya yang hilang tanpa arah. Hal ini disebabkan adanya satu karakter yang terpaksa dihilangkan karena aktris yang memerankan karakter tersebut tertangkap polisi mengendarai mobil dalam keadaan mabuk, sungguh disayangkan ending yang akan jauh berbeda mungkin akan ditampilkan apabila tidak ada kasus tersebut.

Monday, July 10, 2023

REVIEW SERIES: THE DIPLOMAT (2023)

Jumlah Episode: 8 (50 menit)

Skor IMDb: 8.0/10 

The Diplomat diawali dengan peristiwa internasional yang mengguncang kedutaanbesar Inggris di mana kapal berbendera Inggris diserang di perairan Timur Tengah. Buntutnya adalah beberapa usaha yang penuh intrik demi mengungkap siapa pelaku sebenarnya serta politik yang melingkupi dibalik peristiwa tersebut.

Serial ini mampu menampilkan hiruk pikuk yang mengikuti tugas di diplomasi yang saling silang sengkarut dengan dunia spionase, seiring dengan adanya negosiasi intens, perebutan kekuasaan dan perubahan kebijakan yang sangat erat kaitannya dengan politik kepentingan.

Serial ini akan susah dipahami bagi orang-orang yang tidak terlalu paham mengenai dunia diplomasi karena setting dan pembicaraan yang amat sangat teknis dan tempo yang cepat. Terlebih seperti di dunia akhir-akhir ini, politik mengenai kawan atau lawan amat sangat abu-abu, semua tergantung kepentingan pihak-pihak terkait.

Selain politik antar-negara, serial ini berusaha membumbui dengan romansa antar beberapa karakter, akan tetapi usaha tersebut membuat fokus serial ini menjadi terganggu dan kesan bahwa kisah romansanya hanya selingan belaka amat sangat kentara.

Sebagai penutup, serial ini sangat menarik bagi penonton yang paham dunia spionase dan diplomasi akan tetapi juga bumbu misteri di balik kejadian terorisme mampu membuat ketegangan serial ini sangat layak ditonton. Serial ini mampu membangun ketegangan lewat dialog-dialog dan adegan yang saling memperkuat plot cerita. Patut disayangkan alur romansanya amat sangat kentara sebagai selingan dan sangat lemah dalam membangun audiens yang lebih luas akan tetapi secara keseluruhan serial ini sangat memuaskan.

Sunday, July 9, 2023

REVIEW SERIES: CELEBRITY (2023)

Jumlah Episode: 12

Skor IMDb: 7.6/10

Drama Celebrity membawa para pemirsa ke dalam dunia influencer yang tak seindah kelihatannya dan penuh tipu daya. Alur cerita dan penampilan para cast yang sangat mendukung membuat serial ini akan membuat kita tidak sabar melanjutkan cerita hingga akhirnya tiba pada episode terakhir.

Park Gyu-young yang berperan sebagai Seo A-ri, karakter utama dalam serial ini mampu menampilkan performa maksimal sebagai influenser yang sangat ambisius dan penuh dendam. Selain itu partnernya yang dilakoni oleh Kang Min-hyuk juga mampu menampilkan pribadi yang misterius serta penuh tipu muslihat. Selain kedua karakter utama, pemeran pendukung juga mampu menampilkan performa yang tak kalah apik. Gabin Society yang bagaikan jelmaan Dajjal juga mampu menimbulkan rasa benci di hati para penonton.

Alur yang maju mundur memberikan tantangan dalam memahami hubungan antar-karakter akan tetapi apabila dipergunakan dengan maksimal justru bisa menjadi kelebihan suatu serial. Alur yang campuran seperti ini justru meningkatkan ketegangan dan membuat semua misteri yang terkuak kian misterius. Salah satu kekurangan justru di episode penutup yang seolah antiklimaks setelah dibangun dengan hati-hati pada episode-episode sebelumuya.


Tuesday, July 4, 2023

REVIEW FILM: THE CHILDE (2023)

Durasi: 118 menit

Skor IMDb: 7.4/10 

The Childe menarik karena selain merupakan film perdana Kim Seon-Ho, film ini juga disutradarai oleh Park Hoon-Jung, sutradara yang membuat film The Witch Part I dan Night in Paradise, dua film yang menarik perhatian saya karena visual yang menarik serta ciri khas film-film gangster Korea Selatan yang banyak mengumbar kekerasan, Dua formula itu juga bisa ditemui di The Childe, sehingga amat sangat menarik buat para pemirsa film laga Korea Selatan.

Sesuai dengan dua film PHJ sebelumnya, film ini juga mengalami kendala yang sama yaitu dengan bagian back story yang lumayan lama sehingga buat yang tidak terbiasa dengan style sutradaranya akan cepat bosan. Apabila di The Witch adalah backstory mengenai dunianya, apabila di The Night in Paradise backstory perihal mood nya, sedangkan di film ini berkaitan dengan narasinya, hal ini yang membuat karya dari PHJ akan susah menjangkau pasar yang lebih luas karena pace nya yang lumayan lambat.

The Childe berkisah tentang anak haram yang kembali ke Korea untuk mengunjungi ayah yang tidak ia kenal sebelumnya, tanpa dia sadari bahwa dirinya dibuntuti oleh pembunuh berbahaya, selain itu timbul pula konflik dengan saudara tirinya yang tidak ingin kehilangan harta warisan. Kim Seon-Ho sendiri memerankan pembunuh berbahaya tersebut dengan performa yang mampu memerankan kompleksitas karakter pembunuh tersebut, terkadang kekanakan namun di lain momen sangat sadis.

Paruh akhir film ini barulah semua ketegangan mulai berhamburan, kejar-kejaran mobil serta tembak-tembakan membuat kesabaran mulai terbayar. Bagian finale film ini akan sangat memorable buat para penonton.

Thursday, June 11, 2015

REVIEW FILM: MCFARLAND, USA (2015)

Durasi: 129 menit
Skor IMDb: 7.5/10

Genre drama olahraga merupakan salah satu genre andalan di dunia perfilman Hollywood. Mayoritas dari film bergenre tersebut banyak mengangkat kisah nyata sehingga terjalin kedekatan antara masyarakat local dengan film yang diangkat. Hal ini akan menjadi sebuah boomerang untuk penonton luar negeri. Perbedaan kultur dan juga olahraga favorit akan menjadi penghambat film bertema olahraga untuk dipasarkan ke luar negeri. Lihat saja daftar rilisan film yang tayang maupun akan tayang di bioskop Indonesia, hampir dapat dipastikan tidak ada tertera film olahraga pada daftar tersebut. Contoh lain adalah pada daftar film box office, akan sangat sulit bagi film olahraga untuk menyeruak ke dalam daftar film box office dikarenakan pemasaran yang terbatas di Amerika Serikat. Tren film olahraga sebenarnya tidak terlalu bagus dikarenakan formula yang dipakai terlalu mudah ditebak. Membangun sesuatu dari ketiadaan, inti dari semua film olahraga adalah seperti itu. Dibutuhkan suatu nilai lebih daripada benang merah ‘ketiadaan menjadi ada’ tersebut.

McFarland merupakan film yang juga mengangkat tema drama olahraga. McFarland sendiri merupakan nama kota di Amerika Serikat sana di mana tingkat kesejahteraannya termasuk salah satu yang paling terbelakang. Penggunaan titel USA di belakang McFarland pada judul film merupakan salah satu cara rumah produksi untuk menekankan bahwa McFarland masih merupakan bagian dari Amerika Serikat meskipun mayoritas penduduknya merupakan imigran maupun keturunan dari Meksiko. Latar belakang inilah yang menjadi pembeda film ini dengan film drama olahraga lainnya. Hal lain yang akan membedakan film ini dengan film lain ialah bidang olahraga yang diangkat sebagai inti cerita.

Film ini diawali dengan adegan yang tidak biasanya terjadi di film olahraga manapun. Seorang pelatih sedang memberikan arahan di saat jeda pertandingan dan kemudian pelatih tersebut naik pitam dan melukai anak asuhnya. Pelatih tersebut ialah Jim White (Kevin Costner), dan dapat diprediksi akhirnya Jim dipecat dari pekerjaannya. Catatan kerjanya yang tidak bagus dan kerap bermasalah membuat Jim kesulitan mendapat pekerjaan di tempat lain. Satu-satunya pilihan ialah melatih di kota kecil McFarland. Sepintas dari namanya kita akan berpikir bahwa kota ini seperti kebanyakan kota lain di Amerika, kenyataan tidak berkata demikian, kota ini justru didominasi penduduk keturunan Latin. Jim pada awalnya cukup khawatir dengan keadaan McFarland yang sepertinya rawan kejahatan, bahkan sekolah pun berseberangan langsung dengan penjara, akan tetapi Jim berusaha berpikir positif sembari menyesuaikan diri dengan lingkungan McFarland.

Jim yang dasarnya adalah pelatih rugbi melihat potensi lain yang dimiliki oleh sebagian besar anak didiknya. Didesak oleh kebutuhan ekonomi yang menghimpit maka mayoritas anak didik Jim bekerja di ladang sebelum dan setelah sekolah usai. Kesibukan tersebut memaksa mayoritas siswa di McFarland untuk berangkat sekolah dengan bermodalkan lari. Hal ini perlahan disadari Jim sebagai potensi McFarland dan di kemudian hari ia pun membentuk tim lari lintas alam. Tim ini terdiri atas Thomas (Carlos Pratts), tiga Diaz bersaudara (Michael Aguero, Rafael Martinez, Ramiro Rodriguez) dan beberapa anggota lain yang kesemuanya memiliki potensi tapi minim muara untuk mengembangkan diri. Selain cerita tentang perjuangan tim lari lintas alam, film ini juga terbangun atas kisah keluarga Jim beradaptasi dengan lingkungan McFarland serta kisah lain tentang paradigm orang-orang kampung yang belum pernah melihat dunia. 

Film McFarland USA merupakan film yang lumayan. Formula film olahraga cenderung akan memudahkan penonton menebak akhir dari kisah tim lari lintas alam McFarland. Terdapat hal lain yang menjadi keunggulan film ini, ialah latar dari semua kejadian McFarland. Kemampuan sang sutradara dalam mengabadikan film ini dan mengambil sudut pandang menjadi salah satu keunggulan dari film ini. McFarland USA akan menjadi film yang jauh lebih menarik lagi apabila mengangkat kisah ini berdasarkan sudut pandang para anak didik Jim yang hidupnya jauh lebih rumit dibandingkan hidup Jim sendiri. Secara keseluruhan film ini layak ditonton bersama keluarga dan mampu menyampaikan pesan begi para penikmatnya.

Thursday, May 28, 2015

REVIEW FILM: CRAZY WAITING (2008)

Durasi: 108 menit
Skor IMDb: 6.4/10

Film yang bakal gue review kali ini ialah film yang udah cukup lama sih, 2008 lalu keluanya. Film Korea Selatan, Crazy Waiting yang bercerita tentang pemuda Korea Selatan dan problematika yang harus mereka hadapi selama mereka mengikuti wajib militer.

Empat pemuda Korea harus menjalani wajib militer selama dua tahun, sebagaimana layaknya para pemuda lain seumuran mereka. Selain harus berpisah dengan teman dan keluarga, mereka pun harus percaya bahwa pacar mereka akan setia menunggu selama 24 bulan itu. Ternyata menunggu selama 24 bulan bukan hal yang mudah bagi Eun-suk dan Jin-ah, Eun-suk adalah pemuda pertama. Teman dekat Eun-suk, Ki-seong yang seharusnya menjaga Jin-ah, justru menaruh hati pada Jin-ah dan lama kelamaan perasaan Jin-ah pun berubah meskipun Jin-ah belum menyadarinya. Pemuda kedua ialah Won-jae yang memiliki pacar seorang terapis, Hyo-jung yang umurnya lebih tua beberapa tahun darinya. Won-jae dan Hyo-jung belum sempat melanjutkan hubungan keduanya ke jenjang selanjutnya sebelum Won-jae pergi wajib militer. Pemuda ketiga ialah Huh-wook, pacarnya ialah Bi-ang yang justru segera mencari lelaki baru setelah Huh-wook berangkat wajib militer. Pemuda terakhir adalah Min-chul, seorang gitaris yang telah lebih dulu jatuh cinta pada vokalis bandnya. Setelah ia menjalani wajib militer baru ia menyadari bahwa ada orang yang menyimpan rasa padanya tidak lain ialah sang keyboardist, Bo-ram. Akan seperti apakah kelanjutan keempat kisah ini?

Film ini mencoba mencari tema yang jarang diangkat di Korea Selatan sono, tentang wajib militer yang harus dijalani para pemuda Korea Selatan. Bukan hanya harus berpisah dengan keluarga, namun mereka pun harus berpisah dengan pacar mereka. Film ini mencoba menceritakan problematika tersebt namun delivery-nya cenderung melompat-lompat sehingga penonton pun tidak bisa menyatu dengan film ini.

Monday, May 11, 2015

REVIEW FILM: THE COBBLER (2014)

Durasi: 99 Menit
Skor IMDb: 5.8/10

It's been a while. Setelah sesaat vakum, gue balik lagi dengan film komedi yang dibintangi Adam Sandler. Kayaknya udah cukup lama gue kagak nonton film Adam Sandler karena gue semata-mata liat film dari rating IMDB-nya. Dan kali ini gue coba mengabaikan rating untuk coba nonton film komedi yang less thinking-lah. Dan emang seharusnya rating itu bukan segalanya men, kalo emang lu suka komedi, tonton aja, yah lumayan lah..

Jadi film ini menceritakan seorang tukang sol sepatu, kalo pinter bahasa Inggris mah udah paham baru baca judulnya doang (The Cobbler = tukang sol sepatu). Entah kenapa kalo di Amrik sono tukang sol sepatu punya titel atau panggilan yang keren yah, hehee. Adam Sandler di film ini berperan sebagai sang Cobbler bernama Max Simkin di mana doi mewarisi usaha sol sepatu ini dari leluhurnya. Bayangin aja, doi udah generasi keempat yang buka usaha sol sepatu, keren abis (biasa aja sih). Karena usaha yang gitu-gitu aja, Max serasa udah mau nyerah dan pengin beranjak dari usaha satu ini. Doi ngiri kali ya sama tetangganya yang punya mobil keren, sopir pribadi ama pacar yang super sexy. Selain berkutat di kehidupan pribadi Max, film ini juga berusaha bercerita mengenai kegagalan Max dalam melakukan pendekatan terhadap wanita-wanita di sekelilingnya. Ia pun harus menjalani kehidupan bersama wanita satu-satunya di hidupnya yang tidak lain dan tidak bukan ialah ibunya sendiri. Kehidupan keluarga Simkin tampak complicated karena meskipun Max mewarisi usaha ayahnya, tetapi ayahnya tidak meninggalkan kesan yang baik untuk Max setelah sang ayah meninggalkan Max dan ibunya pergi entah ke mana.

Film ini juga sedikit nyerempet ke masalah sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat suburbs, daerah pemukiman yang akan diubah menjadi kota, kebijakan penguasa-penguasa yang jauh dari kata membela rakyat kecil, serta kriminalitas, dan krisis jati diri menjadi bumbu dari film The Cobbler ini. Adalah Carmen yang menjembatani kehidupan Max dengan segala pergolakan sosial yang terjadi di lingkungan tersebut. Carmen sendiri ialah seorang pekerja sosial yang vokal melawan kebijakan penggusuran lahan untuk dikembangkan sebagai daerah yang lebih mewah. Carmen inilah wanita lain yang tidak mampu didekati oleh Max meskipun maksud hati ingin, bahkan sekedar minta nomer telepon pun Max tak sanggup.

Kehidupan Max seketika berubah ketika tanpa sengaja ia menggunakan lagi mesin jahit milik ayahnya yang telah lama mangkrak di gudang bawah tanah. Ternyata semua sepatu yang dibedah solnya lalu dijahit dengan mesin jahit tersebut mampu mengubah Max menjadi sosok pemilik sepatu tersebut. Kehidupan Max yang lebih berwarna pun dimulai dari situ. Max bebas bertingkah sekenanya karena ia tampil dengan tubuh orang lain. Di tengah kesibukannya menjadi orang lain, tiba-tiba ia dihadapkan dengan kabar sedih lainnya, sehari setelah ibunya makan malam berdua dengan sang ayah (yang Max lakukan sendiri), ibu Max menghembuskan napas terakhirnya. Kehidupan yang semakin runyam membawa Max kepada masalah selanjutnya, ia terjebak di dalam tubuh seorang gangster yang coba membunuhnya. Masalah lain yang belum terselesaikan pula ialah perihal akan tergusurnya apartemen milik bapak tua sesepuh di daerah pemukiman Max. Dapatkah ia keluar dari berbagai permasalahan ini? Bagaimanakah nasib Max dengan wanita? Akankah ia mendapatkan Carmen? Lalu problematika terakhir yang harus terjawab ialah ke mana ayah Max pergi?

Sebuah film yang sarat akan pesan moral meskipun dibawakan dengan genre komedi. Rating yang rendah ternyata tidak membuat gue sebagai penikmat film kecewa dengan film ini, justru lebih mudah diikuti alurnya jika dibandingkan dengan film komedi rating tinggi yang justru lebih membutuhkan pemikiran dalam untuk mencerna hingga akhirnya kita sebagai penonton pun perlu berpikir ulang tujuan awal menonton film komedi itu apa? Film ini menggambarkan 'living in someone elses shoes' secara gamblang dan well done Mr Adam...

Tuesday, April 28, 2015

REVIEW FILM: THE FORGER (2014)

Durasi: 92 menit
Skor IMDb: 5.7/10

Film kedua yang akan gue review adalah film John Travolta yang berjudul The Forger. Siapa sih yang gak kenal John Travolta?? Bahkan namanya pun udah jadi judul album girl band Korea sono, T-ara. Sejumlah film-film brilian pernah dia bintangi, di antaranya ada Pulp Fiction, Saturday Night Fever, dll. Selain film-film brilian ada juga film-film flop yang dia bintangi pula. Nah kalo film yang satu ini bisa dibilang ada di tengah-tengahnya, gak bagus-bagus amat dan gak jelek-jelek banget lah. Di film ini John berperan sebagai Raymond Cutter seorang penipu (dilihat dari judulnya udah ketauan tuh maksudnya apa).

Di permulaan film kita langsung disuguhi adegan Raymond yang duduk di dalam penjara seakan sedang berintrospeksi memikirkan segala kesalahan yang telah ia perbuat selama ini. Setelah beberapa adegan berlalu ternyata Raymond masuk penjara karena pekerjaannya yang berupa pencuri serta pemalsu karya seni. Di kala masa tahanannya kurang 10 bulan lagi, tawaran 'pekerjaan' justru datang menghampirinya dengan iming-iming bebas lebih cepat. Orang yang menawari Raymond 'pekerjaan' ini ialah Kragen (Anson Mount), orang yang sama yang menyebabkan Raymond dipenjara. Tawaran Kragen tentu tidak mudah, Kragen meminta Raymond untuk melakukan 'pekerjaan' terakhir yaitu memalsukan lukisan Monet yang berjudul "The Promenade, Woman with a Parasol" lalu masuk ke museum dan menukarkan lukisan asli dengan yang palsu buatan Raymond. Keadaan semakin runyam karena agen DEA telah mengikuti gerak gerik Raymond.

Meskipun resiko yang menanti cukup besar, akan tetapi Raymond tetap mengiyakan tawaran Kragen karena ia ingin lebih cepat keluar dari penjara agar bisa bersama dengan anak sematawayangnya Will (Tye Sheridan). Lambat laun diketahui bahwa Will mengidap tumor otak yang sangat akut dan tidak bisa disembuhkan sehingga Raymond pun berusaha tetap ada di sisi Will agar dapat mengabulkan permintaan-permintaan Will. Dapatkah Raymond menyelesaikan 'pekerjaan' terakhirnya? Akankah Raymond dapat keluar tepat waktu untuk mendampingi anaknya??

Film ini berusaha memadukan dua jenis tema yaitu tema kriminal serta tema penguras air mata, akan tetapi eksekusinya kurang matang dikarenakan emosi yang terbangun tidak tersampaikan pada para penikmat serta originalitas yang minim. Dan pada akhirnya film ini hanya akan menjadi film John Travolta lain yang mudah dilupakan...

Saturday, January 17, 2015

REVIEW FILM: TODAY'S LOVE/LOVE FORECAST (2015)

Release Date: 15 Januari 2015


Sebagai seorang Runners (Running Man fan) sudah pasti banyak yang bertanya-tanya kan tentang setiap bintang tamu di tiap episodenya. Nah, 2 minggu terakhir, minggu pertama dan kedua 2015 Running Man dihiasi oleh muka Lee Seung-gi dan Moon Chae-won, pastinya setiap bintang tamu ada maksud tersembunyi kan ya. Ternyata mereka berdua sedang promo film ini nih, Today's Love dan baru saja tayang di Korea sono 15 Januari yang lalu. Film ini jadi debut film layar lebar Lee Seung-gi setelah sebelumnya malang melintang di layar televisi Korea baik di drama maupun variety show. Film ini mengambil genre drama komedi, atau komedi romantis khas film Korea.

Walaupun banyak yang menantikan penampilan Lee Seung-gi tetapi film ini adalah panggung Moon Chae-won. Chae-won di film ini berperan sebagai Hyun-woo seorang pembawa ramalan cuaca yang memiliki kepribadian ketus dan emosian, sedangkan Seung-gi berperan sebagai Joo-soo, seorang guru SD yang putus asa dalam hal percintaan.

Film ini bercerita tentang dua sahabat yang lama kelamaan mulai tumbuh bibit cinta di antara keduanya. Perkembangan kisah cinta mereka berdua disampaikan dengan sangat runtut seperti lazimnya film Korea yang sangat pintar bertutur. Joon-soo dan Hyun-woo telah bersahabat sejak kecil. Meskipun sebenarnya mereka bukanlah saudara kandung, tetapi keduanya telah hidup satu rumah dikarenakan suatu hal yang terjadi pada Hyun-woo. Berbeda dengan Hyu-woo, Joon-soo sebenarnya telah menyimpan rasa tertarik sejak pertama kali bertemu Hyun-woo namun apalah daya hingga dewasa hubungan keduanya terbatas di friendzone saja.

Keduanya mencoba untuk melanjutkan kehidupan masing-masing. Joon-soo yang beralih dari Hyun-woo terjebak pada hubungan 3 bulanan, sedangkan Hyun-woo lebih parah lagi, ia jatuh hati pada seorang pria beristri dan pada akhirnya sama-sama kandas. Keduanya pun menghabiskan malam ditemani soju, dan mabuk bersama ~~~.

Akan seperti apa akhir kisah keduanya? Mungkin buat kalian yang punya temen tinggal di Korea bisa tuh tanya endingnya gimana, coz film ini kagak tayang di Indonesia sob, jadi selamat menunggu...

REVIEW FILM: AMERICAN SNIPER (2014)

Durasi: 132 menit
Skor IMDb: 7.6/10

Buat kalian para penggemar Clint Eastwood, opa yang satu ini kembali lagi dengan sebuah film biografi beraroma perang Timur Tengah, American Sniper. Film ini juga termasuk salah satu film terbaik 2014 versi Rolling Stone Magazine walau tanggal resmi perilisannya baru 2015. Film ini dibintangi Bradley Cooper sedangkan Clint Eastwood sendiri berperan di balik layar sebagai sutradara. Walaupun semua film Hollywood tentang perang Timur Tengah berbau propaganda politik dan cenderung terkesan pamer senjata, tapi mau bagaimanapun bakal tetep gue tonton lah, keren je.

Bradley Cooper berperan sebagai Chris Kyle, seorang sniper paling mematikan yang dimiliki Amerika Serikat. Film yang disadur dari buku otobiografi milik Chris Kyle ini diawali dengan adegan ketika Chris sedang mengintai di atap sebuah rumah di Fallujah. Ia membidikkan senapannya ke sorang ibu yang sedang menggendong anaknya yang terlihat seperti granat bagi para sniper. Suara dari radio memberikan perintah sepenuhnya pada Chris untuk memutuskan menembak atau membiarkan ibu itu berlalu. Di tengah kebingungan yang melanda, memori Chri pun melayang ke ingatan tentang masa kecilnya di Texas dan tentang ayahnya yang mengajari filosofi kehidupan. Flashback terus berlanjut dari saat-saat sebagai koboi rodeo hingga ke masa Chris memutuskan masuk masuk militer sebagai responnya terhadap serangan di kedubes Amerika tahun 1998. Karirnya kian menanjak dengan ia bergabung di SEAL.

Selain karirnya di militer, film ini juga menceritakan kisah cintanya dengan Taya (Siena Miller), wanita yang ia temui di bar di sela-sela rehatnya dari latihan militer. Namun sayangnya kisah cinta itu terbentur dengan kewajiban Chris sebagai seorang militer. Pasca 9/11 Chris ditugaskan terbang ke Irak meninggalkan istrinya dan fokus sepenuhnya untuk menyerang teroris yang mengacaukan negaranya. Tugas utama Chris tentu memberikan efek samping yang sangat besar. Ketika ia terbiasa menganggap target hanyalah sebatas target tanpa kandungan emosional di dalamnya, tentu akan memberikan beban psikologis pada kehidupan bermasyarakatnya kelak.

Mampukah Chris beradaptasi dengan kehidupan masyarakat? Bagaimana kehidupannya setelah lepas dari Irak? Mari bersabar menanti film ini rilis file-nya karena sepertinya gak edar di 21 tuh, Happy Waiting..

Friday, January 16, 2015

REVIEW FILM: THE WAVE (2008)

Durasi: 107 menit
Skor IMDb: 7.6/10

Buat nambah-nambah referensi dan sudut pandang akan skena film dunia (sok2an amat dah), gue coba nonton film Eropa yang ratingnya lumayan tinggi di IMDb, The Wave salah satunya. Film ini produksi dari Jerman, kayaknya ini film Jerman pertama yang gue tonton dan hasilnya not bad lah, ada sisi bagus dan sisi jeleknya. Secara umum seperi di kebanyakan film, kalo ada rebel pasti selalu diselingi cewek cakep, nah di sini juga gitu tuh, plotnya masih sama.

Film ini bercerita tentang kehidupan siswa SMA di Jerman dan pola pikir bangsa Jerman pasca NAZI, persatuan Jerman Barat dan Jerman Timur dan hal-hal berbau ideologis lainnya. Rainer Wenger adalah seorang guru di sebuah SMA di Jerman. Dari awal kita sudah digiring opini bahwa Rainer adalah seorang guru yang berbeda dibanding yang lain. Ketika yang lain mengenakan kemeja sebagai dress code mengajar, maka ia datang dengan kaos padahal bukan sesi olahraga. Ia diharuskan membuktikan kapasitas mengajarnya karena guru-guru lain tidak simpatik kepadanya dikarenakan ulah slengean-nya. 

Sistem pendidikan di Jermanyang berbeda dengan Indonesia tampak jelas pada film ini. Di tingkat SMA saja terdapat sebuah kelas pilihan bagi siswa yang tertarik akan suatu topik tertentu. Rainer yang mendapat tanggung jawab mengampu topik autokrasi, berusaha membuktikan kapasitasnya dengan cara ajar yang nyeleneh. Buat yang belum tau apa itu autokrasi cek sendiri di wikipedia yah. Jadi intinya di kelas autokrasi, Reiner justru mengembangkan paham fasis yang telah lama dihapuskan dari Jerman. Para siswa yang tadinya kurang ngeh dengan ideologi ini lama kelamaan mulai nyaman dan justru semakin larut dalam komunitas ini.The Wave, yang aslinya hanya nama kelas autokrasi berubah menjadi sebuah gerakan, yah semacam geng-geng anak SMA di Indonesia gitu lah. Seorang siswa yang sangat terdoktrin ajaran ini malah semakin bertindak ekstrim dengan membeli pistol, serta mengagung-agungkan Rainer. 

Rainer pun akhirnya sadar bahwa materi yang ia sampaikan telah terlalu jauh diimplementasikan para murid-muridnya. Akankah ia bisa mengembalikan keadaan seperti semula? Atau akankah The Wave bergerak menjadi poros politik baru? Film ini lumayan ringan dinikmati dan mungkin bisa jadi acuan temen-temen yang mempelajari ilmu politik. Politiknya dapet, dramanya dapet, thrillernya juga lumayan lah walau di akhir-akhir doang. Selamat menyaksikan... :)

REVIEW FILM: BOYHOOD (2014)

Durasi: 165 menit


Skor IMDb: 8.3/10

Boyhood, gue pertama kali denger film ini dari review beberapa majalah film yang ngerekomendasikan film ini sebagai film terbaik 2014. Tercata ada Rolling Stone yang memberikan kehormatan peringkat pertama film terbaik 2014 kepada Boyhood. Selain itu di beberapa situs juga banyak yang menyanjung film ini berkat konsep pengambilan gambarnya yang cukup unik dan memakan waktu yang banyak, 12 tahun lamanya film ini diproduksi, dari pemeran utamanya masih kecil 6 tahun hingga akhirnya beranjak dewasa, 18 tahun. Dengan dasar rekomendasi-rekomendasi itulah gue coba buat nonton nih film walaupun dari jajaean cast-nya yg gue kenal cuma Ethan Hawke yang berperan sebagai Mason, Sr.

Film ini berkisah tentang kehidupan Mason Jr. yang harus tumbuh besar di sebuah keluarga yang gagal (broken family). Sejak usia 6 tahun ia harus berpisah dengan ayahnya, Mason Sr. dan tinggal bersama dengan ibunya. Walau tinggal bersama ibunya, ia masih kerap bercengkerama dengan ayahnya yang setiap akhir pekan sering mengajak ia dan kakaknya, Samantha liburan bersama. Dari dialog-dialog dalam film ini ternyata alasan keduanya berpisah adalah karena Mason Sr. yang belum bisa mapan sementara ibunya berharap agar bisa melanjutkan pendidikannya.

Tahun semakin berganti dan sang ibu pun perlahan mulai meraih kemapanan kehidupan dengan tingkat pendidikan yang semakin membaik. Ia akhirnya mendapat pekerjaan sebagai dosen psikologi di suatu universitas. Nasib baik di karir ternyata tidak menular ke kisah rumah tangganya. Ketidakmujuran atau bisa dibilang kesalahan dalam memilih pasangan dari sang ibu membawa Mason dan Samantha bertemu dengan ayah-ayah pemabuk. Dua kali pernikahan ibunya gagal dengan latar belakang yang hampir sama, ayah pemabuk, ekonomi menghimpit lalu menjadi perlahan sikap otoriter lah ujungnya. Sementara di lain tempat, Mason Sr. kian mendapatka kehidupan yang mapan dan telah menemukan belahan jiwanya dan kini menjelma menjadi sosok ayah yang sangat didambakan oleh Samantha dan Mason Jr.

Kalo menurut gue sih nih film emang patut diapresiasi sih dari segi ide serta konsep pengambilan gambarnya. Salut buat sutradaranya yang sabar banget mengerjakan proyek ini, tropi Golden Globe dan nominasi Oscar pun menjadi buah atas jerih payah mereka. Ada sisi bagus pasti ada sisi buruknya dong, dari segi cerita sih biasa-biasa aja kalo menurut gue. Dari durasi yang hampir tiga jam dengan cerita dan tempo yang lambat kayaknya buat penonton yang kurang sabar bakalan ditinggalin dah film ginian. Tapi buat yang penasaran silakan ditonton dulu, kalo udah gak kuat langsung tinggal aja.. :p

Monday, January 12, 2015

REVIEW FILM: BIG EYES (2014)

Durasi: 106 menit
Skor IMDb: 7.1/10

Big Eyes, film yang rilis dalam rangka liburan natal dan tahun baru kemarin ini pertama kali gue ngeh gara-gara soundtrack-nya yang dinyanyiin Lana Del Rey. Di sebuah website rilisan lagu-lagu anyar gitu single soundtrack film Big Eyes ini dapet nilai yang lumayan bagus lah, 8 dari 10. Mulai dari situ gue coba-coba cari tahu tentang film ini, dan sepertinya kagak bakal tayang di Indonesia. Film ini dibintangi oleh mbak yang lagi naik daun, Amy Adams sebagai Margaret Keane dan Christoph Waltz sebagai Walter Keane. Film ini diangkat dari kisah nyata sepasang suami istri Margaret dan Walter Keane.

Film ini menempatkan kisah suami istri Walter dan Margaret Keane sebagai problematika utama. Keduanya hidup bersama dan tersohor sebagai pelukis ternama pada tahun 1960-an. Karya mereka yang menggambarkan anak-anak dengan raut muka sedih terwakilkan oleh mata yang lebar nan sendu. Gaya melukis ini menjadi hits pada zaman tersebut dan mereka berhasil menjual ribuan lukisan. Pada masa tersebut inilah yang populer disebut suburban art

Di tengah kegemilangan karya tersebut ternyata Walter berusaha memanfaatkan kenaifan istrinya. Semua karya ia jual dengan nama pelukis Keane sehingga orang-orang pun akan mengira bahwa pelukisnya ialah seorang lelaki. Dengan liciknya Walter memaksa istrinya melukis karya-karya tersebut dan mengedarkannya serta mengaku bahwa semua adalah hasil karya Walter sendiri. Dalam menyelesaikan lukisan-lukisan itu, Margaret dikurung bagaikan tahanan di rumahnya sendiri. Margaret pun merahasiakan hal tersebut bahkan dari anaknya sekalipun.

Setelah sekian lama menahan diri, akhirnya Margaret tidak tahan dan meminta cerai Walter. Walter yang tidak ingin pendapatannya berkurang pun berusaha menahan istrinya. Sesampainya di pengadilan, sang hakim meminta keduanya membuktikan siapa yang sebenarnya pelukis karya-karya 'Big Eyes' selama ini. Walter menolak membuktikan sedangkan Margaret dengan sukarela melukis karya tersebut dalam waktu yang kurang dari satu jam.

Akankah pasangan suami istri ini benar-benar berpisah? Bagaimana kehidupan Walter setelah persidangan ini? Jangan lupa tunggu kehadiran Big Eyes di situs-situs download film ilegal buat kalian yang menanti Amy Adams dengan perannya yang naif dan mudah terperdaya. Happy waiting...

Wednesday, January 7, 2015

REVIEW FILM: ZULU (2013)

Durasi: 110 menit
Skor IMDb: 6.7/10

Film Bahasa Inggris buatan Prancis ini memajang deretan artis kenamaan yang biasa malang melintang di film-film Hollywood. Di antaranya ada Forest Whitaker dan Orlando Bloom. Forest Whitaker di film ini memerankan Ali Sokhela, seorang polisi dengan pangkat kapten di unit kriminal kepolisian Afrika Selatan. Orlando Bloom memerankan Brian Epkeen, seorang detektif sekaligus ayah dan suami yang gagal.

Film ini menceritakan Afrika Selatan setelah hilangnya politik Apartheid. Dalam film ini dikisahkan Afrika Selatan sebagai pusat dari merebaknya narkoba jenis baru yang dinamakan tik. Selain membuat kecanduan, ternyata narkoba ini dapat menyebabkan penggunanya menjadi bersikap agresif (sangat agresif bahkan) dan nantinya akan saling membunuh satu sama lain. 

Di suatu malam ditemukan sesosok mayat yang ternyata merupakan anak seorang pelatih rugbi ternama. Ali yang ditugaskan dalam kasus ini pun menginvestigasi dengan bantuan Brian serta Dan Fletcher (Conrad Kemp). Bukti-bukti yang ditemukan mengindikasikan kaitan erat antara kasus ini dengan narkoba terbaru, tik tadi. Mereka pun mulai memburu gembong narkoba yang bertanggungjawab terhadap penyebaran tik ke Afrika Selatan. Fakta yang didapatkan pun sungguh pedih karena ternyata sasaran utama narkoba ini ialah anak-anak kulit hitam dengan tujuan sebagai senjata pemusnah massal yang digagas oleh Professor Opperman.

Semakin dalam Ali terjerumus dalam kasus ini, semakin dalam pula masa lalu Ali terkuak. Politik Apartheid, kebencian kaum kulit hitam terhadap kulit putih di Afrika Selatan menjadi akar dibangunnya plot dalam film ini. Buat kalian yang demen nonton film sambil nungguin adegan esek2, di film ini ada bejibun tuh, maklum lah namanya juga film Prancis. Dan tambahan juga, film yang diadaptasi dari novel kriminal terbaik Prancis tahun 2008 ini juga dapet kehormatan jadi film penutup di festival film Cannes 2013. So, tunggu apalagi, keren banget pasti nih film, happy watching guys..

Thursday, December 25, 2014

REVIEW FILM: BEGIN AGAIN (2014)

Durasi: 104 menit
Skor IMDb: 7.5/10

Sebenernya ini film udah rilis tengah tahun ini di Hollywood sono, tapi entah kenapa masalah lisensi atau bagaimana jadinya baru masuk daftar coming soon di bioskop 21 di seluruh Indonesia. Buat kalian yang udah pernah nonton film Once (2006), ini merupakan hasil karya sutradara yang sama. Deretan bintang ternama yang mejeng di film ini sepatutnya menjadi jaminan kualitas yang akan kita nikmati ketika menonton film ini. Keira Knightley, Mark Ruffalo, bahkan Adam Levine pun ikutan main di film ini.

Film ini berkisah mengenai kehidupan seorang produser rekaman, Dan (Mark Ruffalo), yang sebenarnya merupakan seseorang produser brilian akan tetapi ketidakberuntungan selalu menimpa dirinya sehingga karirnya pun terus menurun. Di film ini, ia diceritakan bekerja sebagai partner dari Saul (Mos Def), yang secara mengenaskan justru memecat Dan dari label rekaman karena kinerja Dan yang semakin memburuk. Ketidakberuntungan Dan tidak berhenti sampai di situ, istrinya (Catherine Keener) yang merupakan wartawan musik pergi meninggalkannya dan anaknya yang telah menginjak remaja, Violet (Hailee Steinfeld), pun tidak memperdulikan keadaan Dan.

Pada suatu malam Dan pergi ke kafe di sekitar New York. Di sana ia bertemu Greta (Keira Knightley), seorang penyanyi sekaligus pencipta lagu asal Inggris yang mampu membius pengunjung kafe dengan suaranya. Dan pun ikut terbius dengan Greta, akan tetapi bukan karena suaranya melainkan karena lagunya yang menggambarkan kondisi Dan saat itu. Lagu yang diciptakan Greta mengisahkan mengenai putusnya hubungan dua insan karena seseorang mengkhianati.

Pada akhirnya Dan pun mencoba membantu mengorbitkan Greta dengan mengumpulkan dana rekaman. Kian lama mereka berinteraksi semakin terbongkar pula asal usul patah hati Greta. Ternyata ia baru saja mengakhiri dengan terpaksa hubungan 5 tahun dengan Dave (Adam Levine), seorang penyanyi yang baru saja naik daun.

Sebuah film drama romantis dengan bumbu musikalitas yang ciamik ditinjau dari para pemeran yang kelas wahid. Keira Knightley pun tidak kalah dengan Adam Levine, di mana suara Keira pun cukup menunjang film ini. Akan bagaimana akhir kisah Dan serta Greta? Sebuah film yang menarik tetapi akan mudah terlupakan oleh semua pemirsanya..

Saturday, December 20, 2014

REVIEW FILM: EXODUS: GODS AND KINGS (2014)

Durasi: 150 menit
Skor IMDb: 6.4/10

Setelah Night at the Museum, kali ini gue bakal nge-review film lain yang juga tayang sebagai pemanis liburan akhir tahun kalian. Exodus: Gods and Kings, dari judulnya udah agak kontroversial nih film, apakah isi filmnya juga? Coba baca dulu bro, sedikit demi sedikit, lumayan kan yang main Christian Bale, yang beken dengan film Batman-nya.

Film yang diambil dari kisah ternama Al-Kitab ini bercerita tentang Musa (Christian Bale) seorang pejuang dan terompah pada masa lampau. Musa dan Pangeran Rhamses (Joel Edgerton), di film ini diceritakan berjuang bersama-sama sebagai jendral pasukan Pharaoh. Meskipun Rhamses keturunan bangsawan, akan tetapi Raja Seti I (John Turturro) lebih memberi kepercayaan kepada Musa untuk mengemban misi krusial Mesir. Hal ini tentu saja menimbulkan kebencian dan rasa iri di hati Rhamses.

Di sebuah perjalanan menuju tempat Viceroy (Ben Mendelsohn), Musa bertemu budak yang menceritakan masa lalu Musa. Dia berkata bahwa Musa sesungguhnya merupakan seorang Bani Israil yang dibesarkan oleh Mesir untuk menghindari terbunuhnya Musa. Rumor tersebut merebak tak lama sesudahnya dan sampai ke kuping Rhamses yang telah dilantik sebagai Raja. Karena ketidaknyamanannya, Rhamses pun memerintahkan pengasingan Musa dari kerajaan Mesir ke padang pasir di antah berantah.

Musa mampu bangkit dan melanjutkan hidupnya sebagai seorang penggembala. Dia terlibat kembali ke perselisihan Mesir dan perbudakan terhadap Bani Israil. Ketika muncul karunia Tuhan pada Musa untuk membebaskan kaum Bani Israil, ia dihadapkan pada kenyataan pedih. Musa harus melawan raja tiran sekaligus teman masa kecilnya.

Bagaimana Musa mengatasi masalah ini? Mampukah isa membebaskan kaum Bani Israil dari penderitaan berkepanjangan? Saksikan film-nya di bioskop terdekat, udah tayang lhoo...

Friday, December 19, 2014

REVIEW FILM: PK (2014)

Durasi: 144 menit
Skor IMDb: 8.9/10

PK adalah film komedi terbaru Bollywood. Film ini digadang-gadang akan menjadi film Aamir Khan selanjutnya yang mencetak box office menyusul suksesnya pada 3 Idiots dan Dhoom 3. Pada film ini Aamir Khan bekerja sama dengan Anushka Sharma sebagai lawan main dan disutradarai oleh Rajkumar hirani. Sutradara ini pula yang bekerja sama dengan Aamir Khan pada film 3 Idiots, pasti ekspektasi pun tinggi melihat kombinasi keduanya. Kebetulan film ini baru rilis kemarin hari, 19 Desember 2014. Buat kalian yang pengen nonton tapi belum tahu benang merah ceritanya, pantengin nih postingan gue.

PK apaan sih? Jadi PK (Aamir Khan) adalah sesosok manusia yang terdampar di wilayah asing bagi dirinya. Di negeri antah berantah ini, ia berteman dengan Bhairon Singh (Sanjay Dutt) untuk beradaptasi dengan kondisi sekitar. Di film ini PK digambarkan selalu berpakaian rapi dengan kemeja cap, kancing baju yang rapi hingga leher, serta mata yang menatap tajam.

PK berpetualang dari desa Rajasthan, di mana ia bertemu Bhairon Singh, seorang yang sangat ceria, dan seorang wanita yang memberinya pelajaran penting, hingga Rajdhani Delhi. PK berpetualang dengan membawa sebuah transistor yang juga menjadi identitasnya dan tak pernah lepas darinya. Pertemuannya dengan Jaggu (Anushka Sharma), seorang jurnalis, akan membawa makna yang lebih bagi PK. Pertemuan ini melepaskan beban yang menggantung di benak PK. Pada Jaggu lah ia mengungkapkan semua rahasianya yang ia sembunyikan dari semua orang. Di lain pihak, Jaggu yang sedang berusaha move on dari cinta yang belum lama kandas mudah menerima kehadiran PK karena PK merupakan sosok yang jujur dan innocent.

Kompleksitas terjadi ketika Jaggu berusaha membantu PK membebaskan harta PK yang dibawa oleh Saurabh Sukhla. Cara keduanya melawan berbagai rintangan yang menghadang serta kepercayaan nenek moyang yang membutakan akan membuat kita tertawa terbahak-bahak. Fungsi transistor yang selalu dibawa PK juga nantinya akan tersibak di akhir film ini. Jadi penasaran kan gimana film terbaru Aamir Khan? Buruan antri di bioskop, udah tayang tuh..

Monday, December 15, 2014

REVIEW FILM: SLOW VIDEO [2014]

Durasi: 106 menit
Skor IMDb: 7.4/10

Ini film yang udah ditunggu-tunggu sama fans-nya Cha Taehyun oppa. Hampir semua film yang dibintangi Cha Taehyun pasti meruakan film yang keren coy, apalagi karena dia berkolaborasi dengan Kim Youngtak, sutradara yang juga berkontribusi di film Ba:Bo (Miracle of Giving Fool) sama di Hello Ghost yang keren itu.  Di film ini juga ada Go Chang Seok yang juga ikut bermain di Hello Ghost serta Oh Dalsu yang main di Miracle in Cel No. 7. Tapi setelah ditunggu-tunggu dan akhirnya rilis, masalah selanjtnya adalah subtitlenya kapan keluar??? Sambil nungguin subtitle-nya keluar ane kasih tau jalan ceritanya dikit kagak apa-apa kalik ya..

Di sin Cha Taehyun berperan sebagai Yeo Jangboo, seseorang dengan kemampuan luar biasa. Dari kecil ia sudah bisa merasakan bahwa ada yang berbeda dengan dirinya. Ternyata ia mampu melihat dengan berbeda dari manusia lain, dengan penglihatannya semua kejadian merupakan sebuah slow motion. Ketika kecil ia hanya menjadi bahan bully teman-temannya, oleh karena itu ia menghabiskan 20 tahun hidupnya hanya duduk di rumah menonton serial drama Korea. Ketika dewasa, Yeo Jangboo mula menerima kenyataan hidupnya dan justru semakin percaya diri. Pada akhirnya ia bekerja di kepolisian Korea Selatan sebagai pengamat kamera CCTV dan merupakan yang terbaik di bidangnya.

Bagaimanakah kelanjutan karir Yeo Jangboo? Mari kita tunggu bersama-sama subtitle-nya keluar baru semua itu akan terjawab.

REVIEW FILM: WAY BACK HOME [2013]

Durasi: 131 menit
Skor IMDb: 7.7/10

Way Back Home merupakan film Korea yang terinspirasi oleh sebuah kisah nyata. Karena rating IMDb-nya yang tinggi, gue coba copy nih film ke harddisk gue. Baru ane liat awal-awal film males banget, tempo-nya kayaknya lambat abis. Berhubung rasa penasaran ane yang tinggi, jadinya ane pantengin dah tuh, dan ternyata...

Film ini merupakan kisah nyata tentang seorang penyelundup narkoba asal Korea yang dipenjara di Martinique tanpa ada bantuan sama sekali dari kedutaan besar mereka. Film ini diperankan oleh Jeon Doyeon dan Go Soo sebagai sepasang suami istri Jeong Yeon dan Jong Bae.

Di awal film dapat kita lihat bahwa ternyata hidup di Korea tidak semudah yang kita bayangkan. Jeong Yeon dan Jong Bae dengan anak semata wayangnya berusaha keras untuk membayar kontrakan rumah yang harganya tinggi. Keduanya yang hanya bekerja di bengkel tentu kesulitan memenuhi tanggungan tersebut. Seorang kawan lama, Seo Moondo (Choi Minchul), datang menawari mereka pekerjaan untuk membawa batu kasar selundupan ke Perancis. Dari sinilah awal petaka yang menimpa Jeong Yeon, karena putus asa akhirnya Jeong Yeon menerima pekerjaan tersebut tanpa berkonsultasi dulu dengan Jong Bae.

Sesampainya di Perancis, petugas imigrasi mencurigai gelagat Jeong Yeon yang aneh. Setelah digeledah didapati bahwa ia membawa narkoba kokain seberat 30 kg. Jeong Yeon yang tidak paham duduk permasalahannya pun tetap bersikeras bahwa ia ditipu, akan tetapi tanpa pengakuan Moondo semua pembelaan Jeon Yeon akan sia-sia. Di lain tempat, Jong Bae kembali ke rumah dengan kenyataan bahwa istrinya meninggalkan dia dengan anaknya dan hanya meninggalkan pesan bahwa ia akan kembali dalam beberapa hari. Kekhawatiran Jong Bae pun menjadi kenyataan ketika informasi yang ia dapatkan mengatakan bahwa istrinya dipenjara di Perancis karena menyelundupkan narkoba.

Di tengah keputusasaan, Jong Bae mencoba sekuat tenaga untuk membebaskan istrinya. Ia mencoba mencari Seo Moondo sendiri, berkabar dengan kedutaan besar Korea di Perancis, serta tetap berusaha bekontak dengan istrinya melalui surat. Situasi semakin memburuk karena ia terusir dari kontrakan serta menjadi pengangguran. Di lain pihak, situasi Jeong Yeon juga sama buruknya. Ia dipindahkan ke suatu pulau di Karibia, Martinique, yang ternyata masih merupakan wilayah administrasi Perancis. Di sana ia dihadapkan pada kenyataan bahwa kedutaan besar Korea lepas tangan terhadap kasus yang menimpa dirinya.

Akankah Jeong Yeon mendapat keadilan? Apakah Jeong Yeon akan dapat bersama kembali dengan Jong Bae dan anaknya? Saksikan film yang sarat akan kritik terhadap pemerintahan ini. Dan dari film ini pun kita dapat mengambil pelajaran bahwa sesungguhnya di negara semaju Korea pun pemerintahannya kacau, apalagi di Indonesia, ciee pesan moral...