Showing posts with label Hollywood. Show all posts
Showing posts with label Hollywood. Show all posts

Thursday, July 13, 2023

REVIEW SERIES: BASED ON A TRUE STORY (2023)

Jumlah Episode: 8 (23-44 menit)

Skor IMDb: 7.2/10 

Berdasarkan sinopsisnya, saya mengharapkan Based on a True Story sebagai tontonan  komedi yang dark akan tetapi berujung pada hiburan dan kejutan yang di luar ekspektasi. Alur cerita berpusat pada pasangan yang penuh problematika, Nathan, petenis gagal yang selalu mengelu-elukan pencapaian masa lalunya, serta istrinya Ava yang sedang hamil anak pertama mereka. Krisis keuangan memaksa keduanya beralih pada rencana darurat, bergabung dengan psikopat pembunuh berantai untuk membuat podcast pembunuhan. Tentu saja semua berjalan tidak sesuai yang dibayangkan Ava dan Nathan, karena si pembunuh memiliki ambisinya sendiri. Pasangan suami istri tersebut akhirnya terjebak di tengah-tengah lingkaran setan pembunuhan, misteri, dan drama yang tak kunjung usai. Performa tiga cast utama sangat mendukung jalan cerita yang ringan namun terkadang beralih menjadi menegangkan.

Terdapat banyak plot twist dan akhir yang menggantung hampir di setiap episode, selain itu serial ini juga tidak ragu untuk menampilkan adegan berdarah-darah yang akan memanjakan para pecinta genre gore. Durasi juga menjadi salah satu kelebihan serial ini karena relatif singkat sehingga penuturan tiap episode cenderung to the point.

Tak bisa dipungkiri serial ini akan selalu dihubungkan dengan Only Murders in the Building yang memiliki formula yang hampir serupa, akan tetapi tak perlu membandingkan keduanya karena fungsi utama sebuah serial adalah sebagai hiburan dan serial ini mampu menjalankan tugasnya dengan sangat maksimal.

Monday, July 10, 2023

REVIEW SERIES: THE DIPLOMAT (2023)

Jumlah Episode: 8 (50 menit)

Skor IMDb: 8.0/10 

The Diplomat diawali dengan peristiwa internasional yang mengguncang kedutaanbesar Inggris di mana kapal berbendera Inggris diserang di perairan Timur Tengah. Buntutnya adalah beberapa usaha yang penuh intrik demi mengungkap siapa pelaku sebenarnya serta politik yang melingkupi dibalik peristiwa tersebut.

Serial ini mampu menampilkan hiruk pikuk yang mengikuti tugas di diplomasi yang saling silang sengkarut dengan dunia spionase, seiring dengan adanya negosiasi intens, perebutan kekuasaan dan perubahan kebijakan yang sangat erat kaitannya dengan politik kepentingan.

Serial ini akan susah dipahami bagi orang-orang yang tidak terlalu paham mengenai dunia diplomasi karena setting dan pembicaraan yang amat sangat teknis dan tempo yang cepat. Terlebih seperti di dunia akhir-akhir ini, politik mengenai kawan atau lawan amat sangat abu-abu, semua tergantung kepentingan pihak-pihak terkait.

Selain politik antar-negara, serial ini berusaha membumbui dengan romansa antar beberapa karakter, akan tetapi usaha tersebut membuat fokus serial ini menjadi terganggu dan kesan bahwa kisah romansanya hanya selingan belaka amat sangat kentara.

Sebagai penutup, serial ini sangat menarik bagi penonton yang paham dunia spionase dan diplomasi akan tetapi juga bumbu misteri di balik kejadian terorisme mampu membuat ketegangan serial ini sangat layak ditonton. Serial ini mampu membangun ketegangan lewat dialog-dialog dan adegan yang saling memperkuat plot cerita. Patut disayangkan alur romansanya amat sangat kentara sebagai selingan dan sangat lemah dalam membangun audiens yang lebih luas akan tetapi secara keseluruhan serial ini sangat memuaskan.

Tuesday, July 4, 2023

REVIEW FILM: INDIANA JONES AND THE DIAL OF DESTINY (2023)

Durasi: 154 menit

Skor IMDb: 6.9/10

Film kelima dan pamungkas dari Indiana Jones dan juga film pertama yang tidak disutradarai oleh Steven Spielberg. Film ini membangkitkan kembali arkeologis kesayangan semua pemirsa untuk sebuah film perpisahan dan justru berujung pada film blockbuster yang hambar dan menghilangkan magis serta aura dari film-film sebelumnya meskipun mendapatkan formula yang tak jauh berbeda dari film terdahulu.

Ditulis dan disutradarai oleh James Mangold (Logan serta Ford v Ferrari), film ini dibuka dengan adegan yang sangat menegangkan dan penuh dengan laga akan tetapi berlanjut dengan tak lebih sebuah tontonan yang monoton. Walaupun bertajuk film pamungkas akan tetapi film ini tak mampu menutup dengan baik bahkan aksi laganya juga tak ada geregetnya.

Faktor utama yang membuat film ini menjadi minim gereget adalah formula yang diulang-ulang sepanjang film dan penonton menjadi tidak bisa terserap ke dalam fantasi yang ditawarkan, bahkan unsur petualangan serta bahaya yang dialami aktor utama menjadi tidak ada rasanya. Selain itu faktor komedi yang kurang mampu tersampaikan serta unsur backsound yang tidak terkonsep dengan maksimal membuat film ini semakin banyak miss-nya. Secara performa, Harrison Ford tak perlu diragukan lagi, akan tetapi performa aktor lain kurang berkesan.

Secara keseluruhan film ini diawali dengan baik akan tetapi secara perlahan mulai mengecewakan karena beberapa isu di atas. Kekecewaan yang tidak jauh beda dengan Crystal Skull akan tetapi secara keseluruhan jauh lebih mengecewakan film ini karena tajuknya yang berupa film penutup



Friday, June 12, 2015

REVIEW FILM: THE WEDDING RINGER (2015)

Durasi: 101 menit
Skor IMDb: 6.7/10

The Wedding Ringer merupakan film yang sebenar-benarnya film komedi. Tidak perlu pertimbangan rating yang bagus untuk menilai sebuah film komedi. Film komedi yang sebenar-benarnya film komedi ialah film yang mampu membawa para penontonnya tertawa lepas tanpa harus berkerut-kerut terlebih dahulu. Dan inilah yang mampu disampaikan oleh The Wedding Ringer.

Film ini berkisah tentang Doug Harris yang akan segera menikah. Dilihat dari sisi manapun, sang calon mempelai wanita memang jauh di luar jangkauan Doug melihat fisik Doug yang merefleksikan seorang loser. Meskipun secara fisik mengenaskan, akan tetapi Doug sejatinya ialah orang yang baik, memiliki masa depan cerah dan pekerja keras. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa Doug bukanlah tipe lelaki yang dengan mudahnya menggaet wanita, bahkan untuk sekedar diajak bicara wanita pun merupakan sesuatu hal yang sulit. Waktu berjalan terus hingga akhirnya ia bertemu dengan Gretchen yang pada akhirnya akan segera ia nikahi. Doug pun merasa sangat beruntung telah menemukan pujaan hatinya dan ia tidak ingin mengecewakan Gretchen sedikitpun.

Kesengsaraan Doug pun dimulai. Semakin dekatnya tanggal pernikahan mereka berdua, Doug terus berbohong tentang sesuatu yang paling vital, pendamping mempelai pria. Doug bukan hanya tidak memiliki pendamping mempelai pria, ia tidak memiliki satu pun sahabat serta saudara yang cukup dekat untuk dimintai tolong menjadi pendampingnya. Tentu saja beberapa nama telah ia sebutkan ke perencana pernikahan sebagai pendamping akan tetapi nama-nama tersebut hanya karangan Doug belaka.

Waktu yang semakin mepet membuat Doug berpikir ulang. Ia akhirnya mendapatkan kontak seorang penyedia jasa pendamping mempelai pria, ialah Jimmy Callahan and Best Man, Inc. penyedia jasa tersebut. Jimmy sudah menjalani bisnis tersebut selama beberapa tahun dan bisnis ini cukup menjanjikan mengingat banyak pria lain yang juga kesulitan dengan masalah ini.

Doug yang tidak memiliki satu pun pendamping pria memaksa Jimmy mengeluarkan jurus termutakhirnya yang bernama paket ‘Golden Tux’. Dengan biaya 50.000 USD, Jimmy akan mengumpulkan beberapa rekannya untuk berperan sebagai pendamping Doug. Setiap orang yang diajak proyek ini pun menjalani beberapa persiapan dan pelatihan super demi kesuksesan pernikahan Doug.

Akan seperti apakan usaha Doug meyakinkan Gretchen? Sukseskah ‘Golden Tux’ milik Jimmy? Inilah rekomendasi film komedi lain dari saya.

Thursday, June 11, 2015

REVIEW FILM: MCFARLAND, USA (2015)

Durasi: 129 menit
Skor IMDb: 7.5/10

Genre drama olahraga merupakan salah satu genre andalan di dunia perfilman Hollywood. Mayoritas dari film bergenre tersebut banyak mengangkat kisah nyata sehingga terjalin kedekatan antara masyarakat local dengan film yang diangkat. Hal ini akan menjadi sebuah boomerang untuk penonton luar negeri. Perbedaan kultur dan juga olahraga favorit akan menjadi penghambat film bertema olahraga untuk dipasarkan ke luar negeri. Lihat saja daftar rilisan film yang tayang maupun akan tayang di bioskop Indonesia, hampir dapat dipastikan tidak ada tertera film olahraga pada daftar tersebut. Contoh lain adalah pada daftar film box office, akan sangat sulit bagi film olahraga untuk menyeruak ke dalam daftar film box office dikarenakan pemasaran yang terbatas di Amerika Serikat. Tren film olahraga sebenarnya tidak terlalu bagus dikarenakan formula yang dipakai terlalu mudah ditebak. Membangun sesuatu dari ketiadaan, inti dari semua film olahraga adalah seperti itu. Dibutuhkan suatu nilai lebih daripada benang merah ‘ketiadaan menjadi ada’ tersebut.

McFarland merupakan film yang juga mengangkat tema drama olahraga. McFarland sendiri merupakan nama kota di Amerika Serikat sana di mana tingkat kesejahteraannya termasuk salah satu yang paling terbelakang. Penggunaan titel USA di belakang McFarland pada judul film merupakan salah satu cara rumah produksi untuk menekankan bahwa McFarland masih merupakan bagian dari Amerika Serikat meskipun mayoritas penduduknya merupakan imigran maupun keturunan dari Meksiko. Latar belakang inilah yang menjadi pembeda film ini dengan film drama olahraga lainnya. Hal lain yang akan membedakan film ini dengan film lain ialah bidang olahraga yang diangkat sebagai inti cerita.

Film ini diawali dengan adegan yang tidak biasanya terjadi di film olahraga manapun. Seorang pelatih sedang memberikan arahan di saat jeda pertandingan dan kemudian pelatih tersebut naik pitam dan melukai anak asuhnya. Pelatih tersebut ialah Jim White (Kevin Costner), dan dapat diprediksi akhirnya Jim dipecat dari pekerjaannya. Catatan kerjanya yang tidak bagus dan kerap bermasalah membuat Jim kesulitan mendapat pekerjaan di tempat lain. Satu-satunya pilihan ialah melatih di kota kecil McFarland. Sepintas dari namanya kita akan berpikir bahwa kota ini seperti kebanyakan kota lain di Amerika, kenyataan tidak berkata demikian, kota ini justru didominasi penduduk keturunan Latin. Jim pada awalnya cukup khawatir dengan keadaan McFarland yang sepertinya rawan kejahatan, bahkan sekolah pun berseberangan langsung dengan penjara, akan tetapi Jim berusaha berpikir positif sembari menyesuaikan diri dengan lingkungan McFarland.

Jim yang dasarnya adalah pelatih rugbi melihat potensi lain yang dimiliki oleh sebagian besar anak didiknya. Didesak oleh kebutuhan ekonomi yang menghimpit maka mayoritas anak didik Jim bekerja di ladang sebelum dan setelah sekolah usai. Kesibukan tersebut memaksa mayoritas siswa di McFarland untuk berangkat sekolah dengan bermodalkan lari. Hal ini perlahan disadari Jim sebagai potensi McFarland dan di kemudian hari ia pun membentuk tim lari lintas alam. Tim ini terdiri atas Thomas (Carlos Pratts), tiga Diaz bersaudara (Michael Aguero, Rafael Martinez, Ramiro Rodriguez) dan beberapa anggota lain yang kesemuanya memiliki potensi tapi minim muara untuk mengembangkan diri. Selain cerita tentang perjuangan tim lari lintas alam, film ini juga terbangun atas kisah keluarga Jim beradaptasi dengan lingkungan McFarland serta kisah lain tentang paradigm orang-orang kampung yang belum pernah melihat dunia. 

Film McFarland USA merupakan film yang lumayan. Formula film olahraga cenderung akan memudahkan penonton menebak akhir dari kisah tim lari lintas alam McFarland. Terdapat hal lain yang menjadi keunggulan film ini, ialah latar dari semua kejadian McFarland. Kemampuan sang sutradara dalam mengabadikan film ini dan mengambil sudut pandang menjadi salah satu keunggulan dari film ini. McFarland USA akan menjadi film yang jauh lebih menarik lagi apabila mengangkat kisah ini berdasarkan sudut pandang para anak didik Jim yang hidupnya jauh lebih rumit dibandingkan hidup Jim sendiri. Secara keseluruhan film ini layak ditonton bersama keluarga dan mampu menyampaikan pesan begi para penikmatnya.

Monday, May 11, 2015

REVIEW FILM: THE COBBLER (2014)

Durasi: 99 Menit
Skor IMDb: 5.8/10

It's been a while. Setelah sesaat vakum, gue balik lagi dengan film komedi yang dibintangi Adam Sandler. Kayaknya udah cukup lama gue kagak nonton film Adam Sandler karena gue semata-mata liat film dari rating IMDB-nya. Dan kali ini gue coba mengabaikan rating untuk coba nonton film komedi yang less thinking-lah. Dan emang seharusnya rating itu bukan segalanya men, kalo emang lu suka komedi, tonton aja, yah lumayan lah..

Jadi film ini menceritakan seorang tukang sol sepatu, kalo pinter bahasa Inggris mah udah paham baru baca judulnya doang (The Cobbler = tukang sol sepatu). Entah kenapa kalo di Amrik sono tukang sol sepatu punya titel atau panggilan yang keren yah, hehee. Adam Sandler di film ini berperan sebagai sang Cobbler bernama Max Simkin di mana doi mewarisi usaha sol sepatu ini dari leluhurnya. Bayangin aja, doi udah generasi keempat yang buka usaha sol sepatu, keren abis (biasa aja sih). Karena usaha yang gitu-gitu aja, Max serasa udah mau nyerah dan pengin beranjak dari usaha satu ini. Doi ngiri kali ya sama tetangganya yang punya mobil keren, sopir pribadi ama pacar yang super sexy. Selain berkutat di kehidupan pribadi Max, film ini juga berusaha bercerita mengenai kegagalan Max dalam melakukan pendekatan terhadap wanita-wanita di sekelilingnya. Ia pun harus menjalani kehidupan bersama wanita satu-satunya di hidupnya yang tidak lain dan tidak bukan ialah ibunya sendiri. Kehidupan keluarga Simkin tampak complicated karena meskipun Max mewarisi usaha ayahnya, tetapi ayahnya tidak meninggalkan kesan yang baik untuk Max setelah sang ayah meninggalkan Max dan ibunya pergi entah ke mana.

Film ini juga sedikit nyerempet ke masalah sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat suburbs, daerah pemukiman yang akan diubah menjadi kota, kebijakan penguasa-penguasa yang jauh dari kata membela rakyat kecil, serta kriminalitas, dan krisis jati diri menjadi bumbu dari film The Cobbler ini. Adalah Carmen yang menjembatani kehidupan Max dengan segala pergolakan sosial yang terjadi di lingkungan tersebut. Carmen sendiri ialah seorang pekerja sosial yang vokal melawan kebijakan penggusuran lahan untuk dikembangkan sebagai daerah yang lebih mewah. Carmen inilah wanita lain yang tidak mampu didekati oleh Max meskipun maksud hati ingin, bahkan sekedar minta nomer telepon pun Max tak sanggup.

Kehidupan Max seketika berubah ketika tanpa sengaja ia menggunakan lagi mesin jahit milik ayahnya yang telah lama mangkrak di gudang bawah tanah. Ternyata semua sepatu yang dibedah solnya lalu dijahit dengan mesin jahit tersebut mampu mengubah Max menjadi sosok pemilik sepatu tersebut. Kehidupan Max yang lebih berwarna pun dimulai dari situ. Max bebas bertingkah sekenanya karena ia tampil dengan tubuh orang lain. Di tengah kesibukannya menjadi orang lain, tiba-tiba ia dihadapkan dengan kabar sedih lainnya, sehari setelah ibunya makan malam berdua dengan sang ayah (yang Max lakukan sendiri), ibu Max menghembuskan napas terakhirnya. Kehidupan yang semakin runyam membawa Max kepada masalah selanjutnya, ia terjebak di dalam tubuh seorang gangster yang coba membunuhnya. Masalah lain yang belum terselesaikan pula ialah perihal akan tergusurnya apartemen milik bapak tua sesepuh di daerah pemukiman Max. Dapatkah ia keluar dari berbagai permasalahan ini? Bagaimanakah nasib Max dengan wanita? Akankah ia mendapatkan Carmen? Lalu problematika terakhir yang harus terjawab ialah ke mana ayah Max pergi?

Sebuah film yang sarat akan pesan moral meskipun dibawakan dengan genre komedi. Rating yang rendah ternyata tidak membuat gue sebagai penikmat film kecewa dengan film ini, justru lebih mudah diikuti alurnya jika dibandingkan dengan film komedi rating tinggi yang justru lebih membutuhkan pemikiran dalam untuk mencerna hingga akhirnya kita sebagai penonton pun perlu berpikir ulang tujuan awal menonton film komedi itu apa? Film ini menggambarkan 'living in someone elses shoes' secara gamblang dan well done Mr Adam...

Tuesday, April 28, 2015

REVIEW FILM: THE FORGER (2014)

Durasi: 92 menit
Skor IMDb: 5.7/10

Film kedua yang akan gue review adalah film John Travolta yang berjudul The Forger. Siapa sih yang gak kenal John Travolta?? Bahkan namanya pun udah jadi judul album girl band Korea sono, T-ara. Sejumlah film-film brilian pernah dia bintangi, di antaranya ada Pulp Fiction, Saturday Night Fever, dll. Selain film-film brilian ada juga film-film flop yang dia bintangi pula. Nah kalo film yang satu ini bisa dibilang ada di tengah-tengahnya, gak bagus-bagus amat dan gak jelek-jelek banget lah. Di film ini John berperan sebagai Raymond Cutter seorang penipu (dilihat dari judulnya udah ketauan tuh maksudnya apa).

Di permulaan film kita langsung disuguhi adegan Raymond yang duduk di dalam penjara seakan sedang berintrospeksi memikirkan segala kesalahan yang telah ia perbuat selama ini. Setelah beberapa adegan berlalu ternyata Raymond masuk penjara karena pekerjaannya yang berupa pencuri serta pemalsu karya seni. Di kala masa tahanannya kurang 10 bulan lagi, tawaran 'pekerjaan' justru datang menghampirinya dengan iming-iming bebas lebih cepat. Orang yang menawari Raymond 'pekerjaan' ini ialah Kragen (Anson Mount), orang yang sama yang menyebabkan Raymond dipenjara. Tawaran Kragen tentu tidak mudah, Kragen meminta Raymond untuk melakukan 'pekerjaan' terakhir yaitu memalsukan lukisan Monet yang berjudul "The Promenade, Woman with a Parasol" lalu masuk ke museum dan menukarkan lukisan asli dengan yang palsu buatan Raymond. Keadaan semakin runyam karena agen DEA telah mengikuti gerak gerik Raymond.

Meskipun resiko yang menanti cukup besar, akan tetapi Raymond tetap mengiyakan tawaran Kragen karena ia ingin lebih cepat keluar dari penjara agar bisa bersama dengan anak sematawayangnya Will (Tye Sheridan). Lambat laun diketahui bahwa Will mengidap tumor otak yang sangat akut dan tidak bisa disembuhkan sehingga Raymond pun berusaha tetap ada di sisi Will agar dapat mengabulkan permintaan-permintaan Will. Dapatkah Raymond menyelesaikan 'pekerjaan' terakhirnya? Akankah Raymond dapat keluar tepat waktu untuk mendampingi anaknya??

Film ini berusaha memadukan dua jenis tema yaitu tema kriminal serta tema penguras air mata, akan tetapi eksekusinya kurang matang dikarenakan emosi yang terbangun tidak tersampaikan pada para penikmat serta originalitas yang minim. Dan pada akhirnya film ini hanya akan menjadi film John Travolta lain yang mudah dilupakan...

REVIEW FILM: THE LAZARUS EFFECT (2015)

Durasi: 83 menit
Skor IMDb: 5.2/10

Setelah lama menghilang dari peredaran, kini akhirnya gue kembali dengan film Hollywood lain bertema horror thriller yaitu The Lazarus Effect. Entah kenapa akhir-akhir ini gue jadi lebih sering mbahas film horror nih, ati2 ntar parno sendiri..hiii... Dari daftar cast sih cuma dikit bintang yang terkenal, malah kalo sepengetahuan gue cuman mbak Olivia Wilde doang tuh yang kece, yang lain kagak pernah denger dah namanye. Mbak Olivia Wilde di film ini berperan sebagai Zoe istri dari seorang ilmuwan bernama Frank (Mark Duplass).

Frank dan Zoe, bersama rekan-rekannya sesama ilmuwan muda mencoba meneliti tentang menghidupkan kembali makhluk hidup. Sekilas dari ide ceritanya akan mengingatkan kita pada film lain semacam Frankenstein, dsb. yang juga bercerita tentang menghidupkan kembali makhluk hidup yang telah mati. Sekelompok ilmuwan ini mencoba ide utama tadi dengan membuat semacam serum yang nantinya dapat mengembalikan fungsi otak yang sudah mati, sehingga nantinya mampu berguna baik untuk pasien koma maupun yang telah meninggal sekalipun.

Percobaan mereka pun berhasil ketika serum tersebut disuntikkan ke seekor anjing yang telah mati. Namun, lama kelamaan mereka menyadari bahwa apa yang dihidupkan kembali tidak lagi sama dengan anjing biasa. Situasi berubah runyam ketika sebuah perusahaan besar menutup penelitian mereka. Frank dan Zoe pun mencari cara agar hasil penelitian mereka tidak sia-sia begitu saja.

Situasi semakin pelik karena seperti yang terjadi pada anjing percobaan tadi, apa yang dibangkitkan dengan serum tersebut akan jauh berbeda dari kondisi sebelumnya. Bagaimana perjuangan ilmuwan-ilmuwan tersebut menghadapi makhluk-makhluk aneh ini? Akankah mereka semua selamat?

Seperti yang bisa dilihat dari rating IMDb, film yang berbudget rendah ini tampaknya tidak cukup memuaskan penontonnya. Situasi menegangkan hanya terjadi di paruh awal film, sedangkan di setengah akhir mulai mudah ditebak. Tapi buat yang pengen nonton mbak Olivia Wilde sih silakan ditonton, happy watching!!

Saturday, January 17, 2015

REVIEW FILM: AMERICAN SNIPER (2014)

Durasi: 132 menit
Skor IMDb: 7.6/10

Buat kalian para penggemar Clint Eastwood, opa yang satu ini kembali lagi dengan sebuah film biografi beraroma perang Timur Tengah, American Sniper. Film ini juga termasuk salah satu film terbaik 2014 versi Rolling Stone Magazine walau tanggal resmi perilisannya baru 2015. Film ini dibintangi Bradley Cooper sedangkan Clint Eastwood sendiri berperan di balik layar sebagai sutradara. Walaupun semua film Hollywood tentang perang Timur Tengah berbau propaganda politik dan cenderung terkesan pamer senjata, tapi mau bagaimanapun bakal tetep gue tonton lah, keren je.

Bradley Cooper berperan sebagai Chris Kyle, seorang sniper paling mematikan yang dimiliki Amerika Serikat. Film yang disadur dari buku otobiografi milik Chris Kyle ini diawali dengan adegan ketika Chris sedang mengintai di atap sebuah rumah di Fallujah. Ia membidikkan senapannya ke sorang ibu yang sedang menggendong anaknya yang terlihat seperti granat bagi para sniper. Suara dari radio memberikan perintah sepenuhnya pada Chris untuk memutuskan menembak atau membiarkan ibu itu berlalu. Di tengah kebingungan yang melanda, memori Chri pun melayang ke ingatan tentang masa kecilnya di Texas dan tentang ayahnya yang mengajari filosofi kehidupan. Flashback terus berlanjut dari saat-saat sebagai koboi rodeo hingga ke masa Chris memutuskan masuk masuk militer sebagai responnya terhadap serangan di kedubes Amerika tahun 1998. Karirnya kian menanjak dengan ia bergabung di SEAL.

Selain karirnya di militer, film ini juga menceritakan kisah cintanya dengan Taya (Siena Miller), wanita yang ia temui di bar di sela-sela rehatnya dari latihan militer. Namun sayangnya kisah cinta itu terbentur dengan kewajiban Chris sebagai seorang militer. Pasca 9/11 Chris ditugaskan terbang ke Irak meninggalkan istrinya dan fokus sepenuhnya untuk menyerang teroris yang mengacaukan negaranya. Tugas utama Chris tentu memberikan efek samping yang sangat besar. Ketika ia terbiasa menganggap target hanyalah sebatas target tanpa kandungan emosional di dalamnya, tentu akan memberikan beban psikologis pada kehidupan bermasyarakatnya kelak.

Mampukah Chris beradaptasi dengan kehidupan masyarakat? Bagaimana kehidupannya setelah lepas dari Irak? Mari bersabar menanti film ini rilis file-nya karena sepertinya gak edar di 21 tuh, Happy Waiting..

Monday, January 12, 2015

REVIEW FILM: BIG EYES (2014)

Durasi: 106 menit
Skor IMDb: 7.1/10

Big Eyes, film yang rilis dalam rangka liburan natal dan tahun baru kemarin ini pertama kali gue ngeh gara-gara soundtrack-nya yang dinyanyiin Lana Del Rey. Di sebuah website rilisan lagu-lagu anyar gitu single soundtrack film Big Eyes ini dapet nilai yang lumayan bagus lah, 8 dari 10. Mulai dari situ gue coba-coba cari tahu tentang film ini, dan sepertinya kagak bakal tayang di Indonesia. Film ini dibintangi oleh mbak yang lagi naik daun, Amy Adams sebagai Margaret Keane dan Christoph Waltz sebagai Walter Keane. Film ini diangkat dari kisah nyata sepasang suami istri Margaret dan Walter Keane.

Film ini menempatkan kisah suami istri Walter dan Margaret Keane sebagai problematika utama. Keduanya hidup bersama dan tersohor sebagai pelukis ternama pada tahun 1960-an. Karya mereka yang menggambarkan anak-anak dengan raut muka sedih terwakilkan oleh mata yang lebar nan sendu. Gaya melukis ini menjadi hits pada zaman tersebut dan mereka berhasil menjual ribuan lukisan. Pada masa tersebut inilah yang populer disebut suburban art. 

Di tengah kegemilangan karya tersebut ternyata Walter berusaha memanfaatkan kenaifan istrinya. Semua karya ia jual dengan nama pelukis Keane sehingga orang-orang pun akan mengira bahwa pelukisnya ialah seorang lelaki. Dengan liciknya Walter memaksa istrinya melukis karya-karya tersebut dan mengedarkannya serta mengaku bahwa semua adalah hasil karya Walter sendiri. Dalam menyelesaikan lukisan-lukisan itu, Margaret dikurung bagaikan tahanan di rumahnya sendiri. Margaret pun merahasiakan hal tersebut bahkan dari anaknya sekalipun.

Setelah sekian lama menahan diri, akhirnya Margaret tidak tahan dan meminta cerai Walter. Walter yang tidak ingin pendapatannya berkurang pun berusaha menahan istrinya. Sesampainya di pengadilan, sang hakim meminta keduanya membuktikan siapa yang sebenarnya pelukis karya-karya 'Big Eyes' selama ini. Walter menolak membuktikan sedangkan Margaret dengan sukarela melukis karya tersebut dalam waktu yang kurang dari satu jam.

Akankah pasangan suami istri ini benar-benar berpisah? Bagaimana kehidupan Walter setelah persidangan ini? Jangan lupa tunggu kehadiran Big Eyes di situs-situs download film ilegal buat kalian yang menanti Amy Adams dengan perannya yang naif dan mudah terperdaya. Happy waiting...

Thursday, January 8, 2015

REVIEW FILM: TAKEN 3 (2015)

Durasi: 109 menit
Skor IMDb: 7.8/10

Liam Neeson merupakan sebuah anomali bagi film Hollywood (menurut gue). Bisa dibilang dari segi perawakannya, doi gak cocok buat main film action, apalagi jadi agen2 CIA atau FBI kayaknya kagak pas aja gitu. Tapi entah kenapa dibalik perawakannya itu, kalo doi main film action hampir semuanya bagus, coba aja tonton Taken, Taken 2, dan Non-Stop. Film Taken 3 ini kelanjutan dari serial sebelumnya, walaupun belum sempet gue review di blog ini, tapi bisa dibilang ini adalah film action berjilid yang paling gue tunggu-tunggu kelanjutannya.

Masih seperti dua edisi sebelumnya, Liam di film ini berperan sebagai Bryan Mills seorang pensiunan agen CIA yang kini hidup bersama anaknya, setelah ia bercerai dengan istrinya, Lenore (Famke Janssen). Di usianya yang udah menginjak 62 tahun, Liam tetap berperan sebagai seorang 'tough guy' pada diri Bryan Mills. Berkat latar belakangnya yang mantan CIA bisa ditebak sendiri lah kemampuan bela diri dan etika bertarungnya bakal sehebat apa. Prioritas utama dalam hidup Bryan adalah keselamatan anaknya, Kim (Maggie Grace) dan mantan istrinya, Lenore, maka ketika ada orang yang mengusik salah satu atau bahkan keduanya, maka Bryan tak akan segan-segan untuk menghadapi masalah tersebut seperti pada dua edisi Taken sebelumnya.

Pada edisi ketiga ini situasi lebih pelik dihadapkan pada Bryan. Bryan yang memilih untuk hidup tenang dengan anaknya, Kim dihadapkan pada mantan istrinya yang sedang memiliki masalah dengan suami barunya, Stuart (Dougray Scott). Pada suatu sore, Lenore ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di rumah Bryan, fakta-fakta yang didapatkan kepolisian menyudutkan Bryan sebagai tersangka pembunuh mantan istrinya. Bryan pun diharuskan menuntaskan dua masalah sekaligus, menyingkap pembunuh istrinya yang sebenarnya serta menghindari kejaran polisi Los Angeles.

Mampukah bryan menghadapi ini semua? Akankah Bryan mampu membalaskan dendam terhadap pembunuh mantan istrinya? Buat kalian yang udah ngikutin Taken dari pertama, jangan terlalu berharap banyak akan cerita yang nyambung dari edisi terdahulu, karena film ini gak ada sangkut pautnya dari yang kemarin-kemarin, walau di IMDb dapet rating bagus, tapi nyatanya dari situs film lain banyak yang ngasih review miring. Tapi tonton aja dulu dah, keren kayaknya..

Tuesday, December 30, 2014

REVIEW FILM: THE EQUALIZER (2014)

Durasi: 132 menit
Skor IMDb: 7.3/10

 Salah satu film terbaik yang gue tonton tahun ini ialah The Equalizer. Mungkin sedikit sumir untuk berpendapat seperti itu. Orang-orang boleh beranggapan gue subjektif atau gimana tapi emang kalo buat orang yang hobi nonton flm action emang ini bakalan jadi film favorit tahun ini. Selain karena faktor cerita yang emang bagus, akting dari Denzel Washington emang yang bakalan jadi faktor penunjang di sini. Pemeran antagonisnya pun juga sangat meyakinkan, salut untuk Martin Csokas, walaupun gue baru nonton film dia sekali ini. Ada faktor lain yang bikin gue demen ama film satu ini, ada Chloe Grace Moretz bro, mbak cantik pujaan para remaja ini di sini berperan jadi hooker lagi, kurang nantang gimana coba.

Film ini bercertita tentang McCall (Denzel Washington), seorang pria yang di awal film bakal kita kira orang biasa. Dia hidup sendirian dan bekerja sebagai salah satu karyawan di sebuah supermarket. Rekan kerjanya di supermarket sedikit penasaran dengan masa lalu McCall karena mereka cukup takjub dengan kemampuan McCall yang baik meskipun dari segi usia ia tampak sudah tidak muda lagi. Apabila siang ia bekerja, di malam hari McCall biasa menghabiskan waktu dengan nongkrong di sebuah kafe dan membaca buku. Ia mempunyai obsesi untuk membaca 100 buku, sebuah obsesi yang merupakan warisan dari mendiang istrinya. Di kafe tersebut ia biasa bertemu dan berinteraksi dengan Teri atau Alina (Chloe Grace Moretz), seorang pramuria yang masih muda dan memiliki paras menawan (ahai).

Pada suatu malam, hal buruk terjadi pada Teri, ia harus melayani pelanggan yang sangat kasar, dan Teri pun terpaksa memukul pelanggan tersebut. Mengetahui hal tersebut, mucikarinya (Slavin) pun murka dan mencari Teri, ia lalu menyiksa Teri hingga menghasilkan luka lebam di muka dan memar yang sangat menyedihkan. McCall mengetahui fakta tersebut ketika di malam selanjutnya ia tak lagi bertemu Teri di kafe tersebut. Untuk membebaskan Teri dari cengkeraman mafia tersebut McCall pun memberanikan diri datang ke markas New York mafia Rusia tersebut. Di sana, McCall yang berusaha menyelesaikan masalah tersebut dengan damai justru mendapat perlakuan yang tidak semestinya dari para mafia itu, dengan terpaksa McCall menghabisi mafia tersebut. Mengetahui terdapat masalah di New York, organisasi mafia yang dipimpin Pushkin itu mencoba membereskan masalah ini dengan mengirim Teddy (Martin Csokas) ke New York. Dari investigasi yang dilakukan para mafia terkuaklah bahwa McCall adalah dalang kekacauan ini.

Akankah McCall mampu membawa kedamaian bagi New York? Apa sih kemampuan Teddy sehingga ia yang diutus ke New York? Saksikan film yang udah rilis dari September kemarin dengan download legal maupun ilegal, hehe. Sebenernya ceritanya bagus sih, tapi kalo dari segi logika mungkin ada banyak hal yang bisa diperdebatkan, termasuk kemampuan satu orang yang bisa mengalahkan sebuah organisasi itu dari mana logisnya? Namanya juga film,, Hollywood lagi..


Thursday, December 25, 2014

REVIEW FILM: BEGIN AGAIN (2014)

Durasi: 104 menit
Skor IMDb: 7.5/10

Sebenernya ini film udah rilis tengah tahun ini di Hollywood sono, tapi entah kenapa masalah lisensi atau bagaimana jadinya baru masuk daftar coming soon di bioskop 21 di seluruh Indonesia. Buat kalian yang udah pernah nonton film Once (2006), ini merupakan hasil karya sutradara yang sama. Deretan bintang ternama yang mejeng di film ini sepatutnya menjadi jaminan kualitas yang akan kita nikmati ketika menonton film ini. Keira Knightley, Mark Ruffalo, bahkan Adam Levine pun ikutan main di film ini.

Film ini berkisah mengenai kehidupan seorang produser rekaman, Dan (Mark Ruffalo), yang sebenarnya merupakan seseorang produser brilian akan tetapi ketidakberuntungan selalu menimpa dirinya sehingga karirnya pun terus menurun. Di film ini, ia diceritakan bekerja sebagai partner dari Saul (Mos Def), yang secara mengenaskan justru memecat Dan dari label rekaman karena kinerja Dan yang semakin memburuk. Ketidakberuntungan Dan tidak berhenti sampai di situ, istrinya (Catherine Keener) yang merupakan wartawan musik pergi meninggalkannya dan anaknya yang telah menginjak remaja, Violet (Hailee Steinfeld), pun tidak memperdulikan keadaan Dan.

Pada suatu malam Dan pergi ke kafe di sekitar New York. Di sana ia bertemu Greta (Keira Knightley), seorang penyanyi sekaligus pencipta lagu asal Inggris yang mampu membius pengunjung kafe dengan suaranya. Dan pun ikut terbius dengan Greta, akan tetapi bukan karena suaranya melainkan karena lagunya yang menggambarkan kondisi Dan saat itu. Lagu yang diciptakan Greta mengisahkan mengenai putusnya hubungan dua insan karena seseorang mengkhianati.

Pada akhirnya Dan pun mencoba membantu mengorbitkan Greta dengan mengumpulkan dana rekaman. Kian lama mereka berinteraksi semakin terbongkar pula asal usul patah hati Greta. Ternyata ia baru saja mengakhiri dengan terpaksa hubungan 5 tahun dengan Dave (Adam Levine), seorang penyanyi yang baru saja naik daun.

Sebuah film drama romantis dengan bumbu musikalitas yang ciamik ditinjau dari para pemeran yang kelas wahid. Keira Knightley pun tidak kalah dengan Adam Levine, di mana suara Keira pun cukup menunjang film ini. Akan bagaimana akhir kisah Dan serta Greta? Sebuah film yang menarik tetapi akan mudah terlupakan oleh semua pemirsanya..

Saturday, December 20, 2014

REVIEW FILM: EXODUS: GODS AND KINGS (2014)

Durasi: 150 menit
Skor IMDb: 6.4/10

Setelah Night at the Museum, kali ini gue bakal nge-review film lain yang juga tayang sebagai pemanis liburan akhir tahun kalian. Exodus: Gods and Kings, dari judulnya udah agak kontroversial nih film, apakah isi filmnya juga? Coba baca dulu bro, sedikit demi sedikit, lumayan kan yang main Christian Bale, yang beken dengan film Batman-nya.

Film yang diambil dari kisah ternama Al-Kitab ini bercerita tentang Musa (Christian Bale) seorang pejuang dan terompah pada masa lampau. Musa dan Pangeran Rhamses (Joel Edgerton), di film ini diceritakan berjuang bersama-sama sebagai jendral pasukan Pharaoh. Meskipun Rhamses keturunan bangsawan, akan tetapi Raja Seti I (John Turturro) lebih memberi kepercayaan kepada Musa untuk mengemban misi krusial Mesir. Hal ini tentu saja menimbulkan kebencian dan rasa iri di hati Rhamses.

Di sebuah perjalanan menuju tempat Viceroy (Ben Mendelsohn), Musa bertemu budak yang menceritakan masa lalu Musa. Dia berkata bahwa Musa sesungguhnya merupakan seorang Bani Israil yang dibesarkan oleh Mesir untuk menghindari terbunuhnya Musa. Rumor tersebut merebak tak lama sesudahnya dan sampai ke kuping Rhamses yang telah dilantik sebagai Raja. Karena ketidaknyamanannya, Rhamses pun memerintahkan pengasingan Musa dari kerajaan Mesir ke padang pasir di antah berantah.

Musa mampu bangkit dan melanjutkan hidupnya sebagai seorang penggembala. Dia terlibat kembali ke perselisihan Mesir dan perbudakan terhadap Bani Israil. Ketika muncul karunia Tuhan pada Musa untuk membebaskan kaum Bani Israil, ia dihadapkan pada kenyataan pedih. Musa harus melawan raja tiran sekaligus teman masa kecilnya.

Bagaimana Musa mengatasi masalah ini? Mampukah isa membebaskan kaum Bani Israil dari penderitaan berkepanjangan? Saksikan film-nya di bioskop terdekat, udah tayang lhoo...

REVIEW FILM: NIGHT AT THE MUSEUM: SECRET OF THE TOMB (2014)

Durasi: 97 menit
Skor IMDb: 6.9/10

Lima tahun berlalu semenjak edisi kedua Night at the Museum, kini hadirlah edisi ketiga film komedi keluarga ini. Masih dibintangi oleh komedian-komedian yang juga tampil di edisi sebelumnya, Ben Stiller, Owen Wilson, dan Robin Williams sebagai pusat dari segla kehebohan dan kekonyolan film ini.

Pada Secret of the Tomb, sang penjaga Museum Sejarah Amerika, Larry Daley (Ben Stiller) kini mempunyai program bertajuk 'The Night Program'. Pada pertunjukkan ini, pengunjung dibawa ke kehidupan magis dengan efek visual yang megah. Larry memanfaatkan para patung-patung hidup di musemum tersebut. Akan tetapi di suatu malam patung-patung tersebut berulah dan hampir menyebabkan bencana yang dahsyat.

Larry mencoba memecahkan problematika tersebut. Fakta yang Lary dapatkan membawanya pada suatu fakta bahwa telah terjadi kerusakan pada Golden Tablet-nya Pharaoh Akhmenrah yang selama ini mampu menghidupkan kembali patung-patung di museum tersebut. Jalan keluar satu-satunya ialah dengan meminta pertolongan ayah Akhmenrah, Merenkahre, yang sialnya dipajang di Museum London. Untuk mencapai London tentu gampang saja bagi Larry dan rekan-rekannya, akan tetapi sesampainya di sana rintangan baru pun muncul. Penjaga malam di Museum London ternyata sangat disiplin dan masalah baru muncul pula dengan hidupnya objek pameran di Museum London yang belum pernah sebelumnya terjadi.

Banyak yang harus dilakukan Larry dalam satu malam karena jika Golden Tablet tidak segera diperbaiki, keesokan harinya kemampuan magis benda ini akan hilang dan dunia pun akan kehilangan manfaatnya.

Bagaimana kelanjutan perjuangan Larry dan kawan-kawan? Akankah mereka mampu mengembalikan kemampuan Golden Tablet? Nantikan film ini mampir di bioskop terdekat anda. Yakinlah bahwa dengan dana yang lebih besar dari dua edisi terdahulu, film ini akan lebih memukau dan menggelitik anda semua, let's wait!!

Tuesday, December 16, 2014

REVIEW FILM: THE HOBBIT: THE BATTLE OF THE FIVE ARMIES (2014)

Durasi: 144 menit
Skor IMDb: 8.3/10

Seperti yang kalian tahu, The Hobbit: The Battle Of The Five Armies ini adalah kelanjutan film The Hobbit sebelumnya, The Desolation of Smaug. Ane sebenernya bukan orang yang seneng nonton film-film khayal genre beginian, Lord of The Ring kagak pernah ngikutin, Percy Jackson apalagi. Tapi entah kenapa begitu nonton The Hobbit yang pertama An Unexpected Journey, ane ngerasa harus ngikutin sampe selesai kisah si makhluk mungil satu ini.

Di film ketiga sekaligus terakhir dari perjalanan Hobbit, Bilbo dan rekan-rekannya yang berhasil membebaskan tanah kelahiran mereka dari serangan Smaug tanpa disadari justru telah memicu lepasnya kekuatan maha dahsyat ke dunia. Smaug yang marah dan murka secara membabibuta melepaskan hembusan api ke arah warga Lake-town yang tidak berdaya. Di lain pihak, Thorin yang sangat terobsesi dengan harta karun hasil kemerdekaan tanah kelahirannyakhilaf dan memutuskan tali persahabatan yang selama ini terjalin antara dirinya dengan Bilbo. Para Hobbit terpaksa mengambil keputusan yang sulit lagi dramatis akibat perpecahan ini. Tidak berheni sampai di situ, ternyata rintangan terbesar datang dari Sauron. Kenyataan bahwa Sauron telah mengutus pasukan Orc menuju Lonely Mountai hanya bisa diketahui oleh Gandalf. Suasana yang semakin kelam mengharuskan Hobbit bersatu seperti semula.

Akankah Bilbo dan kawan-kawan mampu mengatasi Sauron? Mampukah mereka mengembalikan kondisi Bumi seperti semula? Jangan lewatkan film terakhir The Hobbit yang akan tayang pertengahan Desember ini,, atau besok???

Tonton dulu trailer-nya yok


Saturday, January 25, 2014

REVIEW FILM: THE WOLF OF WALL STREET [2013]

Durasi: 179 menit
Skor IMDb: 8.6/10

Film besutan Martin Scorsese yang diangkat dari biografi Jordan Belfort ini dibintangi banyak artis ternama Hollywood seperti Leonardo DiCaprio (sebagai Jordan Belfort), Jonah Hill, serta Matthew McConaughey. Film bergenre satir komedi ini memuat banyak adegan nude serta tercatat sebagai film drama dengan pengucapan kata fuck terbanyak pada sejarah perfilman Hollywood. Dibalik beberapa kontroversinya, film ini mendapat nominasi Oscar pada kategori Best Picture serta Best Director.

Jordan Belfort pertama kali berkecimpung di dunia stock broker pada tahun 1987 ketika ia bergabung dengan salah satu firma terkemuka di Wall Street. Pada awal karirnya itu pula ia berkenalan dengan Mark Hanna (Matthew McConaughey) yang mengajarkannya cara bertahan hidup di dunia saham ialah dengan gaya hidup sex serta narkoba. Akan tetapi ketika Jordan baru saja beradaptasi dengan pekerjaannya, Wall Street mengalami kegagalan yang dikenal dengan Black Monday dan Jordan pun terpaksa menanggalkan pekerjaannya.

Saat di-PHK itulah ia dianjurkan oleh istrinya, Teresa agar ia mencoba peruntungannya pada firma saham kecil-kecilan (penny stock). Karena kemampuannya dalam meyakinkan para kliennya, Jordan perlahan mulai meraih kesuksesan. Kekayaannya bertambah sedikit demi sedikit. ketika mulai melambung itulah ia bertemu dengan Donnie Azoff (Jonah Hill) dan mereka kemudian membangun firma sendiri bernama Stratton Oakmont. Namanya yang meyakinkan ternyata tidak sebanding dengan usaha mereka yang ilegal, pada prakteknya usaha mereka hanyalah penipuan saham. Firma mereka makin melambung ketika Forbes (majalah bisnis ternama) menjuluki Jordan sebagai Wolf of Wall Street. Semua pemuda berusaha bergabung di firma tersebut.

Seiring melambungnya usaha Jordan, begitu pula dengan gaya hidupnya. Jordan dan karyawannya menghamburkan uang dengan kecanduan pada narkoba serta sex seperti yang ia pelajari di awal karirnya. Kesuksesan pulalah yang akhirnya memisahkan Jordan dengan istrinya Teresa. Tak butuh waktu lama bagi Jordan untuk mendapatkan wanita pengganti Teresa, Naomi (Margot Robbie) yang awalnya hanyalah selingkuhan Jordan pun ia nikahi pada akhirnya. Adanya Naomi tak menyurutkan Jordan untuk tetap memenuhi hasratnya pada sex dan narkoba.

Di lain pihak, FBI yang curiga terhadap gerak gerik Jordan dan firmanya kian mendekat dan sangat ambisius untuk menjegal usaha Jordan. Akankah usaha FBI berhasil? Bisakah Jordan bebas dari kecanduannya terhadap uang, sex, dan narkoba? Akankah kehidupan Jordan dan Naomi bahagia selamanya? Tonton sendiri ya di bioskop terdekat, mumpung masih tayang di bioskop nih film.. Selamat menyaksikan

Friday, August 16, 2013

REVIEW FILM: THE CALL (2013)

Durasi: 94 menit
Skor IMDb: 6.6/10

Kali ini saya akan membahas film yang masih hangat dan barusan diputar di bioskop Jogja, The Call. Film ini dibintangi Halle Berry dan Abigail Breslin, kalo nama pertama pasti udah pada kenal lah ya, nah yang nama kedua ini saya juga baru pertama kali liat, cuman sedep aja diliat jadi cantumin aja dah. Genre film ini ialah thriller, yang sedikit bertemakan crime juga.

Jordan Turner (Halle Berry) ialah seorang operator telepon 911 yang sudah bisa dibilang senior. Dapat kita lihat betapa matang dan tenangnya ia ketika mendapat panggilan telepon dari seseorang yang panik. Pada suatu saat ia menerima telepon dari seorang gadis muda, Leah Templeton yang curiga ada seseorang membobol rumahnya. Dengan tenang Jordan menyuruh anak itu untuk naik ke lantai dua dan mengurung diri di kamarnya. Sial bagi Leah karena pintu kamarnya tidak bisa dikunci. Jordan dengan cerdiknya menyuruh Leah menjatuhkan sandalnya ke halaman sementara Leah bersembunyi di bawah kasur. Strategi itu awalnya berhasil mengelabui sang pembobol, akan tetapi ketika tiba-tiba teleponnya terputus, Jordan memutuskan untuk menelepon kembali Leah, mendengar dering telepon, sang pembobol naik lagi ke kamar dan menarik Leah dari persembunyiannya. Jordan yang berada di ujung telepon bersama sang pembobol rumah mencoba meyakinkan agar tidak menyakiti anak tersebut namun sang pembobol justru berkata, "It's already done", lalu menutup teleponnya. Beberapa hari kemudian ada berita di tv tentang mayat Leah yang ditemukan telah dikubur di suatu tempat. Jordan yang merasa bersalah tidak bisa melanjutkan karirnya lagi sebagai operator 911. Sebuah awal yang bagus memaksa kita untuk terus menyimak film yang satu ini.

Enam bulan berlalu, Jordan beralih karir sebagai trainer untuk para operator 911 baru. Di saat bersamaan, seorang remaja pirang Casey Welson (Abigail Breslin) diculik dari sebuah mall setelah ia ditinggal temannya Autumn yang pulang lebih dulu. Ia diculik di parkiran mall dan dimasukkan dalam bagasi mobil. Casey beruntung karena ia masih memegang hp temannya ketika hp-nya sendiri dihancurkan sang penculik. Karena hp yang digunakan ialah prabayar, maka ketika ia menelepon 911 tidak ada data lokasi GPS yang ditemukan. Pada awalnya Brooke (Jenna Lamia) operator baru yang menerima telepon tersebut, akan tetapi Jordan yang mendengar sekilas langsung mengambilalih karena Brooke tak bisa menghadapinya.Jordan menguatkan Casey untuk terus berjuang dan menuntunnya untuk menyelamatkan diri, termasuk dengan menjebol lampu belakang serta menumpahkan cat ke jalanan. Di perjalanan, banyak orang yang mati demi menyelamatkan nyawa Casey. Akan seperti apa akhir dari kasus penculikan ini? Akankah trauma Jordan mampu sirna dan membimbingnya menyelamatkan Casey? Yang belum nonton film ini buruan nonton deh, buat seru-seruan aja cocok nih film.

Friday, August 9, 2013

REVIEW FILM: THE CONJURING (2013)

Durasi: 112 menit
Skor IMDb: 7.8/10

The Conjuring adalah film horor yang banyak orang menyebutnya yang paling seram dalam 2 tahun terakhir setelah Insidious pada tahun 2011 lalu. Film ini terinspirasi oleh pengalaman paranormal Ed dan Lorraine Warren (Patrick Wilson dan Vera Farmiga) ketika sedang melakukan investigasi kejadian janggal di rumah keluarga Perron di Rhode Island pada tahun 1971 lalu.

Pada 1971 keluarga Perron pindah ke sebuah rumah tua di kawasan pedesaan di Rhode Island. Kehidupan mereka di awal kepindahan masih berjalan normal, meskipun ada sedikit kejanggalan ketika anjing peliharaan mereka tidak mau masuk ke dalam rumah serta kejanggalan lain ketika sang anak menemukan jalan ke loteng yang ditutup. Keesokan paginya kejanggalan lain muncul di saat Carolyn (ibu) terbangun dengan memar dan mereka menemukan anjing mereka dalam keadaan mati. Kejanggalan memuncak pada suatu malam ketika Carolyn ditinggal suaminya ke luar kota. Carolyn yang terperangkap di loteng melihat arwah wanita tua menyerag anaknya.

Keluarga Perron memutuskan untuk memanggil paranormal Ed dan Lorraine Warren guna mencari solusi perihal masalah mereka. Setelah diinvestigasi, Ed dan Lorraine memutuskan bahwa rumah tersebut membutuhkan pengusiran setan, akan tetapi bukti-bukti yang didapatkan belum cukup meyakinkan sehingga keduanya mengulik lagi sejarah rumah tersebut. Ternyata dulu rumah tersebut pernah dimiliki oleh penyihir bernama Bathsheba yang mencoba mengorbankan anaknya dan kemudian bunuh diri setelah mengutuk semua orang yang ingin mengambil alih tanahnya. Tanah yang dulunya begitu luas kemudian dibagi menjadi bagian-bagian kecil, di daerah-daerah lain hasil pembagian tanah tersebut ternyata banyak ditemukan pembunuhan serta bunh diri yang menunjukkan bahwa kutukan Bathsheba terwujud nyata.

Ketika Ed dan Lorraine kembali ke rumah misterius tadi untuk mengumpulkan bukti lebih banyak, salah satu anak dari keluarga Perron ngelindur ke kamar kakaknya dan menemukan jalan rahasia. Lorraine mencoba masuk ke jalan tersebut dan terjatuh hingga ke loteng. Ia menyaksikan arwah-arwah yang dulu pernah dirasuki Bathsheba, semuanya ialah ibu yang dirasuki guna membunuh anaknya sendiri.

Bagaimana hasil investigasi tersebut berujung? Akankah seseorang dikorbankan demi Bathsheba? Saksikan film horor ini makanya..

Wednesday, July 31, 2013

REVIEW FILM: 42 (2013)

Durasi: 128 menit
Skor IMDb: 7.5/10

Sebuah film drama olahraga tentang orang kulit hitam pertama yang masuk dalam draft pemain Major League Baseball di Amerika Serikat yang masih kental dengan aroma rasisme pada tahun 1946. Pemeran utama dalam film ini ialah Chadwick Boseman yang memerankan Jackie Robinson dengan didukung oleh Harrison Ford yang memerankan Branch Rickey, pemilik klub tampat Jackie bermain.

Pada 1946 dunia baseball profesional Amerika Serikat terbagi menjadi dua liga. Yang satu ialah baseball untuk orang kulit putih dan yang kedua ialah baseball untuk orang kulit hitam (negro). Branch Rickey, seorang pemilik klub di liga kulit putih hadir dengan ide yang tidak pernah diduga-duga sebelumnya. Ia hadir mendobrak kemapanan dengan mencoba untuk mendaftarkan orang kulit hitam ke dalam timnya. Pada awalnya semua orang menentangnya, termasuk jajaran petinggi klub lainnya. Rickey tak bergeming dan melanjutkan seleksinya hingga akhirnya menemukan seseorang yang cocok dalam diri Jackie Robinson. Di situlah awal perjuangan Rickey dan Jackie dimulai. Dari stadion yang penuh sorakan rasis, pemain lawan yang meneriaki, teror kepada istrinya, surat ancaman pembunuhan hingga penolakan rekan setim dialami Jackie dalam upayanya memperjuangkan hak kesetaraan ras.

Bagaimana akhir dari perjuangan Rickey dan Jackie dalam memperjuangkan hak kulit hitam dalam Major League Baseball? Saksikanlah '42' film tentang sebuah nomor yang dipensiunkan untuk mengenang perjuangan dan dedikasi untuk kemanusiaan. Film yang akan mengetuk hati semua orang tanpa terkecuali, mungkin bagi anda yang tidak begitu mengetahui baseball akan sedikit kesulitan memahami istilah dalam film ini, namun beruntunglah karena hanya sebagian kecil film ini yang menceritakan tentang karir Jackie di lapangan, sedangkan bagian terbesarnya ialah problematika di luar lapangan. Sebuah film yang brilian!