Sunday, July 9, 2023

REVIEW SERIES: CELEBRITY (2023)

Jumlah Episode: 12

Skor IMDb: 7.6/10

Drama Celebrity membawa para pemirsa ke dalam dunia influencer yang tak seindah kelihatannya dan penuh tipu daya. Alur cerita dan penampilan para cast yang sangat mendukung membuat serial ini akan membuat kita tidak sabar melanjutkan cerita hingga akhirnya tiba pada episode terakhir.

Park Gyu-young yang berperan sebagai Seo A-ri, karakter utama dalam serial ini mampu menampilkan performa maksimal sebagai influenser yang sangat ambisius dan penuh dendam. Selain itu partnernya yang dilakoni oleh Kang Min-hyuk juga mampu menampilkan pribadi yang misterius serta penuh tipu muslihat. Selain kedua karakter utama, pemeran pendukung juga mampu menampilkan performa yang tak kalah apik. Gabin Society yang bagaikan jelmaan Dajjal juga mampu menimbulkan rasa benci di hati para penonton.

Alur yang maju mundur memberikan tantangan dalam memahami hubungan antar-karakter akan tetapi apabila dipergunakan dengan maksimal justru bisa menjadi kelebihan suatu serial. Alur yang campuran seperti ini justru meningkatkan ketegangan dan membuat semua misteri yang terkuak kian misterius. Salah satu kekurangan justru di episode penutup yang seolah antiklimaks setelah dibangun dengan hati-hati pada episode-episode sebelumuya.


Tuesday, July 4, 2023

REVIEW FILM: THE CHILDE (2023)

Durasi: 118 menit

Skor IMDb: 7.4/10 

The Childe menarik karena selain merupakan film perdana Kim Seon-Ho, film ini juga disutradarai oleh Park Hoon-Jung, sutradara yang membuat film The Witch Part I dan Night in Paradise, dua film yang menarik perhatian saya karena visual yang menarik serta ciri khas film-film gangster Korea Selatan yang banyak mengumbar kekerasan, Dua formula itu juga bisa ditemui di The Childe, sehingga amat sangat menarik buat para pemirsa film laga Korea Selatan.

Sesuai dengan dua film PHJ sebelumnya, film ini juga mengalami kendala yang sama yaitu dengan bagian back story yang lumayan lama sehingga buat yang tidak terbiasa dengan style sutradaranya akan cepat bosan. Apabila di The Witch adalah backstory mengenai dunianya, apabila di The Night in Paradise backstory perihal mood nya, sedangkan di film ini berkaitan dengan narasinya, hal ini yang membuat karya dari PHJ akan susah menjangkau pasar yang lebih luas karena pace nya yang lumayan lambat.

The Childe berkisah tentang anak haram yang kembali ke Korea untuk mengunjungi ayah yang tidak ia kenal sebelumnya, tanpa dia sadari bahwa dirinya dibuntuti oleh pembunuh berbahaya, selain itu timbul pula konflik dengan saudara tirinya yang tidak ingin kehilangan harta warisan. Kim Seon-Ho sendiri memerankan pembunuh berbahaya tersebut dengan performa yang mampu memerankan kompleksitas karakter pembunuh tersebut, terkadang kekanakan namun di lain momen sangat sadis.

Paruh akhir film ini barulah semua ketegangan mulai berhamburan, kejar-kejaran mobil serta tembak-tembakan membuat kesabaran mulai terbayar. Bagian finale film ini akan sangat memorable buat para penonton.

REVIEW FILM: INDIANA JONES AND THE DIAL OF DESTINY (2023)

Durasi: 154 menit

Skor IMDb: 6.9/10

Film kelima dan pamungkas dari Indiana Jones dan juga film pertama yang tidak disutradarai oleh Steven Spielberg. Film ini membangkitkan kembali arkeologis kesayangan semua pemirsa untuk sebuah film perpisahan dan justru berujung pada film blockbuster yang hambar dan menghilangkan magis serta aura dari film-film sebelumnya meskipun mendapatkan formula yang tak jauh berbeda dari film terdahulu.

Ditulis dan disutradarai oleh James Mangold (Logan serta Ford v Ferrari), film ini dibuka dengan adegan yang sangat menegangkan dan penuh dengan laga akan tetapi berlanjut dengan tak lebih sebuah tontonan yang monoton. Walaupun bertajuk film pamungkas akan tetapi film ini tak mampu menutup dengan baik bahkan aksi laganya juga tak ada geregetnya.

Faktor utama yang membuat film ini menjadi minim gereget adalah formula yang diulang-ulang sepanjang film dan penonton menjadi tidak bisa terserap ke dalam fantasi yang ditawarkan, bahkan unsur petualangan serta bahaya yang dialami aktor utama menjadi tidak ada rasanya. Selain itu faktor komedi yang kurang mampu tersampaikan serta unsur backsound yang tidak terkonsep dengan maksimal membuat film ini semakin banyak miss-nya. Secara performa, Harrison Ford tak perlu diragukan lagi, akan tetapi performa aktor lain kurang berkesan.

Secara keseluruhan film ini diawali dengan baik akan tetapi secara perlahan mulai mengecewakan karena beberapa isu di atas. Kekecewaan yang tidak jauh beda dengan Crystal Skull akan tetapi secara keseluruhan jauh lebih mengecewakan film ini karena tajuknya yang berupa film penutup



Friday, June 12, 2015

REVIEW FILM: THE WEDDING RINGER (2015)

Durasi: 101 menit
Skor IMDb: 6.7/10

The Wedding Ringer merupakan film yang sebenar-benarnya film komedi. Tidak perlu pertimbangan rating yang bagus untuk menilai sebuah film komedi. Film komedi yang sebenar-benarnya film komedi ialah film yang mampu membawa para penontonnya tertawa lepas tanpa harus berkerut-kerut terlebih dahulu. Dan inilah yang mampu disampaikan oleh The Wedding Ringer.

Film ini berkisah tentang Doug Harris yang akan segera menikah. Dilihat dari sisi manapun, sang calon mempelai wanita memang jauh di luar jangkauan Doug melihat fisik Doug yang merefleksikan seorang loser. Meskipun secara fisik mengenaskan, akan tetapi Doug sejatinya ialah orang yang baik, memiliki masa depan cerah dan pekerja keras. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa Doug bukanlah tipe lelaki yang dengan mudahnya menggaet wanita, bahkan untuk sekedar diajak bicara wanita pun merupakan sesuatu hal yang sulit. Waktu berjalan terus hingga akhirnya ia bertemu dengan Gretchen yang pada akhirnya akan segera ia nikahi. Doug pun merasa sangat beruntung telah menemukan pujaan hatinya dan ia tidak ingin mengecewakan Gretchen sedikitpun.

Kesengsaraan Doug pun dimulai. Semakin dekatnya tanggal pernikahan mereka berdua, Doug terus berbohong tentang sesuatu yang paling vital, pendamping mempelai pria. Doug bukan hanya tidak memiliki pendamping mempelai pria, ia tidak memiliki satu pun sahabat serta saudara yang cukup dekat untuk dimintai tolong menjadi pendampingnya. Tentu saja beberapa nama telah ia sebutkan ke perencana pernikahan sebagai pendamping akan tetapi nama-nama tersebut hanya karangan Doug belaka.

Waktu yang semakin mepet membuat Doug berpikir ulang. Ia akhirnya mendapatkan kontak seorang penyedia jasa pendamping mempelai pria, ialah Jimmy Callahan and Best Man, Inc. penyedia jasa tersebut. Jimmy sudah menjalani bisnis tersebut selama beberapa tahun dan bisnis ini cukup menjanjikan mengingat banyak pria lain yang juga kesulitan dengan masalah ini.

Doug yang tidak memiliki satu pun pendamping pria memaksa Jimmy mengeluarkan jurus termutakhirnya yang bernama paket ‘Golden Tux’. Dengan biaya 50.000 USD, Jimmy akan mengumpulkan beberapa rekannya untuk berperan sebagai pendamping Doug. Setiap orang yang diajak proyek ini pun menjalani beberapa persiapan dan pelatihan super demi kesuksesan pernikahan Doug.

Akan seperti apakan usaha Doug meyakinkan Gretchen? Sukseskah ‘Golden Tux’ milik Jimmy? Inilah rekomendasi film komedi lain dari saya.

Thursday, June 11, 2015

REVIEW FILM: MCFARLAND, USA (2015)

Durasi: 129 menit
Skor IMDb: 7.5/10

Genre drama olahraga merupakan salah satu genre andalan di dunia perfilman Hollywood. Mayoritas dari film bergenre tersebut banyak mengangkat kisah nyata sehingga terjalin kedekatan antara masyarakat local dengan film yang diangkat. Hal ini akan menjadi sebuah boomerang untuk penonton luar negeri. Perbedaan kultur dan juga olahraga favorit akan menjadi penghambat film bertema olahraga untuk dipasarkan ke luar negeri. Lihat saja daftar rilisan film yang tayang maupun akan tayang di bioskop Indonesia, hampir dapat dipastikan tidak ada tertera film olahraga pada daftar tersebut. Contoh lain adalah pada daftar film box office, akan sangat sulit bagi film olahraga untuk menyeruak ke dalam daftar film box office dikarenakan pemasaran yang terbatas di Amerika Serikat. Tren film olahraga sebenarnya tidak terlalu bagus dikarenakan formula yang dipakai terlalu mudah ditebak. Membangun sesuatu dari ketiadaan, inti dari semua film olahraga adalah seperti itu. Dibutuhkan suatu nilai lebih daripada benang merah ‘ketiadaan menjadi ada’ tersebut.

McFarland merupakan film yang juga mengangkat tema drama olahraga. McFarland sendiri merupakan nama kota di Amerika Serikat sana di mana tingkat kesejahteraannya termasuk salah satu yang paling terbelakang. Penggunaan titel USA di belakang McFarland pada judul film merupakan salah satu cara rumah produksi untuk menekankan bahwa McFarland masih merupakan bagian dari Amerika Serikat meskipun mayoritas penduduknya merupakan imigran maupun keturunan dari Meksiko. Latar belakang inilah yang menjadi pembeda film ini dengan film drama olahraga lainnya. Hal lain yang akan membedakan film ini dengan film lain ialah bidang olahraga yang diangkat sebagai inti cerita.

Film ini diawali dengan adegan yang tidak biasanya terjadi di film olahraga manapun. Seorang pelatih sedang memberikan arahan di saat jeda pertandingan dan kemudian pelatih tersebut naik pitam dan melukai anak asuhnya. Pelatih tersebut ialah Jim White (Kevin Costner), dan dapat diprediksi akhirnya Jim dipecat dari pekerjaannya. Catatan kerjanya yang tidak bagus dan kerap bermasalah membuat Jim kesulitan mendapat pekerjaan di tempat lain. Satu-satunya pilihan ialah melatih di kota kecil McFarland. Sepintas dari namanya kita akan berpikir bahwa kota ini seperti kebanyakan kota lain di Amerika, kenyataan tidak berkata demikian, kota ini justru didominasi penduduk keturunan Latin. Jim pada awalnya cukup khawatir dengan keadaan McFarland yang sepertinya rawan kejahatan, bahkan sekolah pun berseberangan langsung dengan penjara, akan tetapi Jim berusaha berpikir positif sembari menyesuaikan diri dengan lingkungan McFarland.

Jim yang dasarnya adalah pelatih rugbi melihat potensi lain yang dimiliki oleh sebagian besar anak didiknya. Didesak oleh kebutuhan ekonomi yang menghimpit maka mayoritas anak didik Jim bekerja di ladang sebelum dan setelah sekolah usai. Kesibukan tersebut memaksa mayoritas siswa di McFarland untuk berangkat sekolah dengan bermodalkan lari. Hal ini perlahan disadari Jim sebagai potensi McFarland dan di kemudian hari ia pun membentuk tim lari lintas alam. Tim ini terdiri atas Thomas (Carlos Pratts), tiga Diaz bersaudara (Michael Aguero, Rafael Martinez, Ramiro Rodriguez) dan beberapa anggota lain yang kesemuanya memiliki potensi tapi minim muara untuk mengembangkan diri. Selain cerita tentang perjuangan tim lari lintas alam, film ini juga terbangun atas kisah keluarga Jim beradaptasi dengan lingkungan McFarland serta kisah lain tentang paradigm orang-orang kampung yang belum pernah melihat dunia. 

Film McFarland USA merupakan film yang lumayan. Formula film olahraga cenderung akan memudahkan penonton menebak akhir dari kisah tim lari lintas alam McFarland. Terdapat hal lain yang menjadi keunggulan film ini, ialah latar dari semua kejadian McFarland. Kemampuan sang sutradara dalam mengabadikan film ini dan mengambil sudut pandang menjadi salah satu keunggulan dari film ini. McFarland USA akan menjadi film yang jauh lebih menarik lagi apabila mengangkat kisah ini berdasarkan sudut pandang para anak didik Jim yang hidupnya jauh lebih rumit dibandingkan hidup Jim sendiri. Secara keseluruhan film ini layak ditonton bersama keluarga dan mampu menyampaikan pesan begi para penikmatnya.