Friday, June 12, 2015

REVIEW FILM: THE WEDDING RINGER (2015)

Durasi: 101 menit
Skor IMDb: 6.7/10

The Wedding Ringer merupakan film yang sebenar-benarnya film komedi. Tidak perlu pertimbangan rating yang bagus untuk menilai sebuah film komedi. Film komedi yang sebenar-benarnya film komedi ialah film yang mampu membawa para penontonnya tertawa lepas tanpa harus berkerut-kerut terlebih dahulu. Dan inilah yang mampu disampaikan oleh The Wedding Ringer.

Film ini berkisah tentang Doug Harris yang akan segera menikah. Dilihat dari sisi manapun, sang calon mempelai wanita memang jauh di luar jangkauan Doug melihat fisik Doug yang merefleksikan seorang loser. Meskipun secara fisik mengenaskan, akan tetapi Doug sejatinya ialah orang yang baik, memiliki masa depan cerah dan pekerja keras. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa Doug bukanlah tipe lelaki yang dengan mudahnya menggaet wanita, bahkan untuk sekedar diajak bicara wanita pun merupakan sesuatu hal yang sulit. Waktu berjalan terus hingga akhirnya ia bertemu dengan Gretchen yang pada akhirnya akan segera ia nikahi. Doug pun merasa sangat beruntung telah menemukan pujaan hatinya dan ia tidak ingin mengecewakan Gretchen sedikitpun.

Kesengsaraan Doug pun dimulai. Semakin dekatnya tanggal pernikahan mereka berdua, Doug terus berbohong tentang sesuatu yang paling vital, pendamping mempelai pria. Doug bukan hanya tidak memiliki pendamping mempelai pria, ia tidak memiliki satu pun sahabat serta saudara yang cukup dekat untuk dimintai tolong menjadi pendampingnya. Tentu saja beberapa nama telah ia sebutkan ke perencana pernikahan sebagai pendamping akan tetapi nama-nama tersebut hanya karangan Doug belaka.

Waktu yang semakin mepet membuat Doug berpikir ulang. Ia akhirnya mendapatkan kontak seorang penyedia jasa pendamping mempelai pria, ialah Jimmy Callahan and Best Man, Inc. penyedia jasa tersebut. Jimmy sudah menjalani bisnis tersebut selama beberapa tahun dan bisnis ini cukup menjanjikan mengingat banyak pria lain yang juga kesulitan dengan masalah ini.

Doug yang tidak memiliki satu pun pendamping pria memaksa Jimmy mengeluarkan jurus termutakhirnya yang bernama paket ‘Golden Tux’. Dengan biaya 50.000 USD, Jimmy akan mengumpulkan beberapa rekannya untuk berperan sebagai pendamping Doug. Setiap orang yang diajak proyek ini pun menjalani beberapa persiapan dan pelatihan super demi kesuksesan pernikahan Doug.

Akan seperti apakan usaha Doug meyakinkan Gretchen? Sukseskah ‘Golden Tux’ milik Jimmy? Inilah rekomendasi film komedi lain dari saya.

Thursday, June 11, 2015

REVIEW FILM: MCFARLAND, USA (2015)

Durasi: 129 menit
Skor IMDb: 7.5/10

Genre drama olahraga merupakan salah satu genre andalan di dunia perfilman Hollywood. Mayoritas dari film bergenre tersebut banyak mengangkat kisah nyata sehingga terjalin kedekatan antara masyarakat local dengan film yang diangkat. Hal ini akan menjadi sebuah boomerang untuk penonton luar negeri. Perbedaan kultur dan juga olahraga favorit akan menjadi penghambat film bertema olahraga untuk dipasarkan ke luar negeri. Lihat saja daftar rilisan film yang tayang maupun akan tayang di bioskop Indonesia, hampir dapat dipastikan tidak ada tertera film olahraga pada daftar tersebut. Contoh lain adalah pada daftar film box office, akan sangat sulit bagi film olahraga untuk menyeruak ke dalam daftar film box office dikarenakan pemasaran yang terbatas di Amerika Serikat. Tren film olahraga sebenarnya tidak terlalu bagus dikarenakan formula yang dipakai terlalu mudah ditebak. Membangun sesuatu dari ketiadaan, inti dari semua film olahraga adalah seperti itu. Dibutuhkan suatu nilai lebih daripada benang merah ‘ketiadaan menjadi ada’ tersebut.

McFarland merupakan film yang juga mengangkat tema drama olahraga. McFarland sendiri merupakan nama kota di Amerika Serikat sana di mana tingkat kesejahteraannya termasuk salah satu yang paling terbelakang. Penggunaan titel USA di belakang McFarland pada judul film merupakan salah satu cara rumah produksi untuk menekankan bahwa McFarland masih merupakan bagian dari Amerika Serikat meskipun mayoritas penduduknya merupakan imigran maupun keturunan dari Meksiko. Latar belakang inilah yang menjadi pembeda film ini dengan film drama olahraga lainnya. Hal lain yang akan membedakan film ini dengan film lain ialah bidang olahraga yang diangkat sebagai inti cerita.

Film ini diawali dengan adegan yang tidak biasanya terjadi di film olahraga manapun. Seorang pelatih sedang memberikan arahan di saat jeda pertandingan dan kemudian pelatih tersebut naik pitam dan melukai anak asuhnya. Pelatih tersebut ialah Jim White (Kevin Costner), dan dapat diprediksi akhirnya Jim dipecat dari pekerjaannya. Catatan kerjanya yang tidak bagus dan kerap bermasalah membuat Jim kesulitan mendapat pekerjaan di tempat lain. Satu-satunya pilihan ialah melatih di kota kecil McFarland. Sepintas dari namanya kita akan berpikir bahwa kota ini seperti kebanyakan kota lain di Amerika, kenyataan tidak berkata demikian, kota ini justru didominasi penduduk keturunan Latin. Jim pada awalnya cukup khawatir dengan keadaan McFarland yang sepertinya rawan kejahatan, bahkan sekolah pun berseberangan langsung dengan penjara, akan tetapi Jim berusaha berpikir positif sembari menyesuaikan diri dengan lingkungan McFarland.

Jim yang dasarnya adalah pelatih rugbi melihat potensi lain yang dimiliki oleh sebagian besar anak didiknya. Didesak oleh kebutuhan ekonomi yang menghimpit maka mayoritas anak didik Jim bekerja di ladang sebelum dan setelah sekolah usai. Kesibukan tersebut memaksa mayoritas siswa di McFarland untuk berangkat sekolah dengan bermodalkan lari. Hal ini perlahan disadari Jim sebagai potensi McFarland dan di kemudian hari ia pun membentuk tim lari lintas alam. Tim ini terdiri atas Thomas (Carlos Pratts), tiga Diaz bersaudara (Michael Aguero, Rafael Martinez, Ramiro Rodriguez) dan beberapa anggota lain yang kesemuanya memiliki potensi tapi minim muara untuk mengembangkan diri. Selain cerita tentang perjuangan tim lari lintas alam, film ini juga terbangun atas kisah keluarga Jim beradaptasi dengan lingkungan McFarland serta kisah lain tentang paradigm orang-orang kampung yang belum pernah melihat dunia. 

Film McFarland USA merupakan film yang lumayan. Formula film olahraga cenderung akan memudahkan penonton menebak akhir dari kisah tim lari lintas alam McFarland. Terdapat hal lain yang menjadi keunggulan film ini, ialah latar dari semua kejadian McFarland. Kemampuan sang sutradara dalam mengabadikan film ini dan mengambil sudut pandang menjadi salah satu keunggulan dari film ini. McFarland USA akan menjadi film yang jauh lebih menarik lagi apabila mengangkat kisah ini berdasarkan sudut pandang para anak didik Jim yang hidupnya jauh lebih rumit dibandingkan hidup Jim sendiri. Secara keseluruhan film ini layak ditonton bersama keluarga dan mampu menyampaikan pesan begi para penikmatnya.

Thursday, May 28, 2015

REVIEW FILM: CRAZY WAITING (2008)

Durasi: 108 menit
Skor IMDb: 6.4/10

Film yang bakal gue review kali ini ialah film yang udah cukup lama sih, 2008 lalu keluanya. Film Korea Selatan, Crazy Waiting yang bercerita tentang pemuda Korea Selatan dan problematika yang harus mereka hadapi selama mereka mengikuti wajib militer.

Empat pemuda Korea harus menjalani wajib militer selama dua tahun, sebagaimana layaknya para pemuda lain seumuran mereka. Selain harus berpisah dengan teman dan keluarga, mereka pun harus percaya bahwa pacar mereka akan setia menunggu selama 24 bulan itu. Ternyata menunggu selama 24 bulan bukan hal yang mudah bagi Eun-suk dan Jin-ah, Eun-suk adalah pemuda pertama. Teman dekat Eun-suk, Ki-seong yang seharusnya menjaga Jin-ah, justru menaruh hati pada Jin-ah dan lama kelamaan perasaan Jin-ah pun berubah meskipun Jin-ah belum menyadarinya. Pemuda kedua ialah Won-jae yang memiliki pacar seorang terapis, Hyo-jung yang umurnya lebih tua beberapa tahun darinya. Won-jae dan Hyo-jung belum sempat melanjutkan hubungan keduanya ke jenjang selanjutnya sebelum Won-jae pergi wajib militer. Pemuda ketiga ialah Huh-wook, pacarnya ialah Bi-ang yang justru segera mencari lelaki baru setelah Huh-wook berangkat wajib militer. Pemuda terakhir adalah Min-chul, seorang gitaris yang telah lebih dulu jatuh cinta pada vokalis bandnya. Setelah ia menjalani wajib militer baru ia menyadari bahwa ada orang yang menyimpan rasa padanya tidak lain ialah sang keyboardist, Bo-ram. Akan seperti apakah kelanjutan keempat kisah ini?

Film ini mencoba mencari tema yang jarang diangkat di Korea Selatan sono, tentang wajib militer yang harus dijalani para pemuda Korea Selatan. Bukan hanya harus berpisah dengan keluarga, namun mereka pun harus berpisah dengan pacar mereka. Film ini mencoba menceritakan problematika tersebt namun delivery-nya cenderung melompat-lompat sehingga penonton pun tidak bisa menyatu dengan film ini.

Wednesday, May 13, 2015

REVIEW FILM: THE SCENT (2012)

Durasi: 117 menit
Skor IMDb: 5.9/10

Kali ini ane bakal nyoba ngebahas film Korea yang udah lumayan lama sih rilisnya, 2012 lalu, film ini berjudul The Scent. Ane tertarik nonton film satu ini soalnya ada Lee Kwang-Soo, sosok yang begitu sentral dan naik popularitasnya tidak lain tidak bukan karena 'Running Man', variety show di Korea sono. Film ini bergenre crime thriller semi erotis gitu kalo menurut ane. Jadi di sini Kwang-Soo berperan sebagai Poong, orang aneh yang bekerja sebagai asisten di konsultan perselingkuhan, Poong mengasisteni detektif Kang yang diperankan oleh Park Hee-Soon.

Dari awal film kita sudah dibumbui dengan adegan yang tidak layak untuk ditonton anak di bawah 18 tahun, ketika suara kejadian perselingkuhan diperdengarkan dan di situlah perkenalan penonton dengan detektif Kang serta asistennya, Poong. Perlahan mulai terungkap bahwa detektif Kang memiliki background sebagai polisi dan ia menjalani profesi sebagai konsultan perselingkuhan karena sedang diistirahatkan oleh kepolisian. Entah ada hubungannya dengan pengistirahatan sementara detektif Kang dari kepolisian, ternyata istri Kang merupakan atasan Kang di kepolisian dan kehidupan rumah tangga keduanya pun buruk karena kecurigaan istri Kang akan investigasi-investigasi perselingkuhan yang dilakukan detektif Kang.

Hari-hari terakhir sebelum diaktifkan kembali status detektif Kang sebagai polisi, detektif Kang didatangi seorang wanita muda bernama Kim Soo-Jin yang meminta detektif Kang menyelidiki suaminya (Nam Young-Gil) yang ia curigai berselingkuh dengan wanita lain. Di tengah investigasi, tiba-tiba Kim Soo Jin mencoba merayu detektif Kang, dan tanpa sadar detektif Kang terbangun di samping tubuh Kim Soo-Jin yang tak bernyawa. Detektif Kang yang kebingungan pun mencoba masuk ke kamar sebelah (kamar suami Kim Soo-Jin yang sedang selingkuh) dan mendapati bahwa Nam Young-Gil juga sudah tak bernyawa. Masalah bertambah rumit ketika ternyata orang yang ada di kamar Nam Young-Gil ialah istri Nam Young-Gil yang sah, dan bernama Kim Soo-Jin pula. Sadar bahwa keadaan ini akan memojokkan dirinya, detektif Kang pun mencoba merekayasa TKP dan meyakinkan Kim Soo-Jin yang masih hidup untuk mengikuti perintahnya. Dengan bantuan Poong, detektif Kang membuang semua barang bukti dan mengubur jenazah keduanya.

Ketidakberuntungan kian menaungi detektif Kang, di hari ia kembali ke kepolisian justru Kim Soo-Jin yang semakin gelisah melaporkan kabar hilangnya sang suami ke pihak kepolisian. Investigasi kepolisian pun dimulai. Perlahan mulai terkuak fakta-fakta di balik hilangnya Nam Young-Gil. Seiring dengan investigasi yang kian intens, keamanan Kim Soo-Jin pun kian terdesak. Dengan dalih untuk mengamankan saksi, detektif Kang pun kian lama justru semakin dekat dengan Kim Soo-Jin. Bagaimana kah ujung dari kisah pembunuhan ini? Akankah detektif Kang mampu lepas dari tuduhan yang menimpanya? Bagaimana pula kehidupan rumah tangga detektif Kang setelah Kim Soo-Jin hadir di hidupnya?

Buat kalian yang seneng film crime thriller Korea semacam Midnight FM, Blind, dsb. film ini mungkin gak sebagus dua film tersebut tapi lumayan lah buat bahan tontonan. Selain itu buat kalian yang demen nonton film Korea yang agak seronok, ini film juga ada plus nya kok, mbaknya cakep lagi. Jadi dengan nonton film ini dapet serunya dapet tegangnya juga, hahaha. So, selamat menonton...

Monday, May 11, 2015

REVIEW FILM: THE COBBLER (2014)

Durasi: 99 Menit
Skor IMDb: 5.8/10

It's been a while. Setelah sesaat vakum, gue balik lagi dengan film komedi yang dibintangi Adam Sandler. Kayaknya udah cukup lama gue kagak nonton film Adam Sandler karena gue semata-mata liat film dari rating IMDB-nya. Dan kali ini gue coba mengabaikan rating untuk coba nonton film komedi yang less thinking-lah. Dan emang seharusnya rating itu bukan segalanya men, kalo emang lu suka komedi, tonton aja, yah lumayan lah..

Jadi film ini menceritakan seorang tukang sol sepatu, kalo pinter bahasa Inggris mah udah paham baru baca judulnya doang (The Cobbler = tukang sol sepatu). Entah kenapa kalo di Amrik sono tukang sol sepatu punya titel atau panggilan yang keren yah, hehee. Adam Sandler di film ini berperan sebagai sang Cobbler bernama Max Simkin di mana doi mewarisi usaha sol sepatu ini dari leluhurnya. Bayangin aja, doi udah generasi keempat yang buka usaha sol sepatu, keren abis (biasa aja sih). Karena usaha yang gitu-gitu aja, Max serasa udah mau nyerah dan pengin beranjak dari usaha satu ini. Doi ngiri kali ya sama tetangganya yang punya mobil keren, sopir pribadi ama pacar yang super sexy. Selain berkutat di kehidupan pribadi Max, film ini juga berusaha bercerita mengenai kegagalan Max dalam melakukan pendekatan terhadap wanita-wanita di sekelilingnya. Ia pun harus menjalani kehidupan bersama wanita satu-satunya di hidupnya yang tidak lain dan tidak bukan ialah ibunya sendiri. Kehidupan keluarga Simkin tampak complicated karena meskipun Max mewarisi usaha ayahnya, tetapi ayahnya tidak meninggalkan kesan yang baik untuk Max setelah sang ayah meninggalkan Max dan ibunya pergi entah ke mana.

Film ini juga sedikit nyerempet ke masalah sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat suburbs, daerah pemukiman yang akan diubah menjadi kota, kebijakan penguasa-penguasa yang jauh dari kata membela rakyat kecil, serta kriminalitas, dan krisis jati diri menjadi bumbu dari film The Cobbler ini. Adalah Carmen yang menjembatani kehidupan Max dengan segala pergolakan sosial yang terjadi di lingkungan tersebut. Carmen sendiri ialah seorang pekerja sosial yang vokal melawan kebijakan penggusuran lahan untuk dikembangkan sebagai daerah yang lebih mewah. Carmen inilah wanita lain yang tidak mampu didekati oleh Max meskipun maksud hati ingin, bahkan sekedar minta nomer telepon pun Max tak sanggup.

Kehidupan Max seketika berubah ketika tanpa sengaja ia menggunakan lagi mesin jahit milik ayahnya yang telah lama mangkrak di gudang bawah tanah. Ternyata semua sepatu yang dibedah solnya lalu dijahit dengan mesin jahit tersebut mampu mengubah Max menjadi sosok pemilik sepatu tersebut. Kehidupan Max yang lebih berwarna pun dimulai dari situ. Max bebas bertingkah sekenanya karena ia tampil dengan tubuh orang lain. Di tengah kesibukannya menjadi orang lain, tiba-tiba ia dihadapkan dengan kabar sedih lainnya, sehari setelah ibunya makan malam berdua dengan sang ayah (yang Max lakukan sendiri), ibu Max menghembuskan napas terakhirnya. Kehidupan yang semakin runyam membawa Max kepada masalah selanjutnya, ia terjebak di dalam tubuh seorang gangster yang coba membunuhnya. Masalah lain yang belum terselesaikan pula ialah perihal akan tergusurnya apartemen milik bapak tua sesepuh di daerah pemukiman Max. Dapatkah ia keluar dari berbagai permasalahan ini? Bagaimanakah nasib Max dengan wanita? Akankah ia mendapatkan Carmen? Lalu problematika terakhir yang harus terjawab ialah ke mana ayah Max pergi?

Sebuah film yang sarat akan pesan moral meskipun dibawakan dengan genre komedi. Rating yang rendah ternyata tidak membuat gue sebagai penikmat film kecewa dengan film ini, justru lebih mudah diikuti alurnya jika dibandingkan dengan film komedi rating tinggi yang justru lebih membutuhkan pemikiran dalam untuk mencerna hingga akhirnya kita sebagai penonton pun perlu berpikir ulang tujuan awal menonton film komedi itu apa? Film ini menggambarkan 'living in someone elses shoes' secara gamblang dan well done Mr Adam...